Pagi itu cuaca BSD aneh. Mendung, tapi panas. Angin ada, tapi tokoh utama kita merasa gerah.
Erwin berdiri di depan sebuah warung kopi pinggir jalan sambil melihat motor-motor lalu lalang. Di depannya terbentang lahan kosong yang beberapa tahun lalu masih dipenuhi ilalang. Sekarang itu sudah menjadi ruko yang merupakan gudang di lantai dua, dan kafe sekaligus binatu di lantai dasar. Di parkiran, ada tempat cuci mobil.
“Win!”
Suara itu membuat Erwin menoleh. Itu suara Santo. Santo datang sambil membawa dua kopi plastik.
“Sorry, telat.”
“Santai,” jawab Erwin.
Mereka duduk di kursi plastik. Tidak jauh dari mereka ada tukang tambal ban. Beberapa burung gereja hinggap di kabel.
Santo tampak lebih bersemangat dari biasanya, khususnya saat berkata, “Gue mau ngomong sesuatu.”
“Apa?”
Santo melihat kanan kiri, lalu merendahkan suara, “Bisnis.”
Erwin langsung tertawa. “Kenapa kalau mau ngomong bisnis, lo selalu pakai suara mafia?”
“Serius ini.”
“Oke.”
Santo membuka tablet, lalu menunjukkan beberapa foto. Ada foto lahan, alat berat, dan pohon sawit.
Erwin menyipitkan mata, bertanya, “Ini apaan?”
“Kelapa sawit.”
Erwin diam, lalu setelah semenit, ia terperanjat. “Hah?”
Santo tertawa. “Serius.”
“Wait,” Erwin menunjuk layar. “Lu ngajak gue …”
“Iya, betul dugaan lo.”
“… bisnis sawit?”
“Iya.”
“Gue?”
“Iya.”
“Yang gula darah aja baru bikin panik?”
“Justru itu. Biar gula darah lo cepet turun.”
Erwin tertawa keras.
Santo ikut tertawa. Lalu Santo mulai menjelaskan, “Gini, Win. Kan, keadaan ekonomi lagi nggak jelas. Harga pada naik. Kebutuhan nggak bisa ditawar. Kita nggak bisa cuma kerja biasa terus berharap semuanya aman.”