Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #43

Masih Membicarakan Bisnis Sawit

Erwin duduk di kursi dekat kaca. Kopi americano dingin di depannya tinggal setengah. Dari tempat duduknya, ia bisa melihat lalu-lalang orang di mal. Ada anak kecil berlari sambil membawa balon. Ada pasangan muda sibuk memilih restoran. Ada juga beberapa orang yang tampak serius membuka laptop.

Sementara itu, Santo masih sibuk menatap layar ponselnya.

“Win,” kata Santo sambil menyimpan ponsel ke meja, “gue serius soal sawit ini.”

Erwin mengangguk pelan.

Mereka sedang duduk di sebuah coffeeshop besar di Summarecon Mall Serpong. Erwin datang lebih awal. Santo baru tiba lima belas menit lalu setelah terjebak macet.

“Lo tahu kan kondisi sekarang,” lanjut Santo. “Ekonomi negara kita lagi aneh-anehnya. Harga-harga pada naik. Orang-orang makin susah. Kalau kita gak gerak sekarang, kapan lagi?”

Erwin mengaduk es yang mulai mencair, sambil bertanya, “Lo yakin gue cocok bisnis sawit?”

“Kenapa nggak?”

“Karena gue aja kadang masih bingung mau hidup kayak gimana.”

Santo tertawa. “Makanya bisnis, lah, Kawan. Pasti sukses jadi pengusaha kelapa sawit.”

Erwin tersenyum tipis. Di layar ponselnya, linimasa media sosial terus bergerak. Postingan pertama yang lewat membuat Erwin berhenti menggulir.

"Barusan banget kejadian. Gue kan lagi duduk di depan resto gitu ..."

Erwin membaca pelan.

"Seorang ayah berteriak tepat di depan wajah anaknya.

STOP.

STOP.

STOOOP.

Anaknya diam. Tidak menangis. Tidak melawan. Hanya diam."

Erwin menghela napas.

“Lagi baca apa?” tanya Santo.

“Lagi baca postingan orang di Facebook”

“Soal apa?”

“Orang marahin anak.”

Santo hanya mengangguk. “Banyak yang kayak gitu. Udah nggak heran gue.”

“Tapi ini ...” Erwin berhenti sejenak. “... kadang yang bikin sedih tuh bukan teriaknya.”

“Tapi?”

“Anaknya udah biasa, ternyata.”

Santo terdiam.

Mereka berdua memandangi orang-orang yang berlalu lalang. Kadang mal memang tempat aneh. Semuanya tampak baik-baik saja. Padahal belum tentu.

“Jadi gimana soal bisnis sawit kita?” Santo kembali ke topik. “Lu tau daerah dekat Balige, kan?”

Erwin mengangguk.

“Kenalan gue lagi buka lahan di sana.”

“Besar?”

“Lumayan.”

Lihat selengkapnya