Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #44

Santo yang Tak Jemu

Pagi itu cuaca Tangerang terasa sedikit mendung. Di cuaca seperti ini, Erwin baru saja mengayuh sepedanya beberapa kilometer mengelilingi kompleks sebelum akhirnya berhenti di sebuah binatu khusus sepatu, helm, tas, ransel, dan koper yang cukup terkenal di kawasan Gading Serpong.Di tangan kirinya ada sepasang sepatu running berwarna abu-abu yang mulai kusam karena terlalu sering dipakai.

"Aduh, ini sepatu udah kayak veteran perang," gumam Erwin sambil tertawa kecil.

Ia menyerahkan sepatu itu kepada petugas.

"Seminggu jadi ya, Mas."

"Oke, langsung kerjain aja," Erwin mengangguk lalu duduk di bangku tunggu yang tersedia.

Di depannya beberapa helm tergantung rapi. Ada koper besar berwarna merah. Ada tas gunung yang sepertinya baru pulang dari pendakian.

Suasananya tenang. Sampai suara yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang.

"WIN!"

Erwin langsung memejamkan mata. Bahkan tanpa menoleh pun ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Siapa lagi jika bukan Santo. Lelaki itu muncul sambil membawa kopi dingin dan map hitam tebal.

"Astaga ..." desah Erwin.

"Ketemu lagi kita!"

"Bumi ini luas banget kayaknya, To."

"Atau mungkin karena gue kunci dari masalah finansial lo."

"Kenapa lo selalu muncul, sih?"

Santo tertawa keras. "Ini namanya providensia."

"Providensia apaan, teror yang ada ..."

Mereka sama-sama tertawa.

Santo langsung duduk di sebelah Erwin tanpa diminta, bertanya, "Sepatu?"

"Iya."

"Bagus."

"Terus?"

"Gue mau ngomong sawit lagi, Win."

Erwin langsung menepuk dahinya, berseru, "Tuhan ..."

"Win, serius, dengerin gue dulu sampai selesai."

Santo membuka mapnya, lalu mulai menjelaskan tentang sawit, "Ada perkembangan baru."

"Lo nggak capek ya?"

"Yah, nggak, lah. Kalau gue capek, lo bakal depresi beneran."

"Anjrit ..."

"Win, peluang itu nggak pernah nunggu orang capek."

Erwin menggeleng. Kadang ia heran dengan energi Santo. Orang itu bisa bicara bisnis sawit di mana-mana. Di mal, rumah duka, pinggir danau, hingga sekarang di laundry sepatu. Mungkin kalau bertemu di ruang UGD rumah sakit pun Santo masih bisa membahas ROI dan potensi panen.

"Jadi gimana?"

"Nggak tahu, ah."

"Kenapa lagi?"

Lihat selengkapnya