Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #45

Ketika Santo di Rumahnya

Malam itu hujan baru saja berhenti. Tadi hujannya cukup deras di sebuah gang kecil yang cukup tenang di kawasan Tangerang Selatan. Hujan yang sangat mengganggu salah satu penghuninya.

Sekarang Santo sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang sudah bertahun-tahun menemaninya. Rumahnya itu sederhana. Tidak besar dan mewah, tapi nyaman untuk ditinggali.

Di ruang depan ada televisi yang sudah mulai uzur. Di dinding tergantung kalender bergambar pemandangan Danau Toba. Di sudut ruangan berdiri lemari kayu tua yang catnya mulai memudar.

Santo tinggal bersama dua sepupunya yang kembar, Anton dan Andri. Keduanya sama-sama bekerja di bidang logistik, sama-sama berusia tiga puluh lima tahun, sama-sama suka kopi hitam, dan sama-sama sering membuat Santo pusing karena wajah mereka terlalu mirip. Hanya berbeda di suara. Andri bersuara lebih gahar dan keras dari Anton. Sementara Anton memiliki suara yang cukup merdu saat bernyanyi.

Omong-omong, malam itu kipas angin di ruang tengah kembali bermasalah.

Santo berdecak. "Kipas kagak ada yang beres, nih."

Suara Anton terdengar dari luar kamar. Andri yang sedang memperbaiki kabel kipas langsung menjawab, "Harusnya lu ngomong dari kemarin."

"Mending beli baru, sih."

"Uangnya dari mana?"

"Patungan, lah ..."

Percakapan seperti itu sudah biasa terjadi.

Santo tertawa kecil dari dalam kamar. Ia lalu mematikan lampu kamar. Hanya cahaya redup dari luar jendela yang masih masuk. Namun matanya belum mengantuk. Kepalanya justru sibuk memikirkan banyak hal. Tentang bisnis sawit. Tentang pula bagaimana agar Erwin bergabung. Juga, tentang proyek lainnya yang sedang ia jalankan. Intinya, benar-benar memikirkan tentang masa depan dirinya.

Lalu tanpa sengaja tangannya meraih ponsel, dan menggulir, seperti kebanyakan orang. Seperti biasa, algoritma selalu berhasil membawa manusia ke tempat-tempat yang aneh.

Sebuah postingan muncul.

"Bahkan di umur 25-an kayaknya gue baru ngeh kalau first love gue pas SMA ..."

Santo membacanya perlahan, lalu postingan berikutnya.

"Aku pacaran baru sekali dan sadar waktu itu benar-benar jatuh cinta."

Lalu yang lainnya.

"One true love gue itu pas SMA ..."

Lalu satu lagi.

Lihat selengkapnya