Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #46

Membicarakan Asmara dengan Anggita

Erwin baru saja memarkir mobilnya di basement apartemen ketika langit Tangerang mulai berubah jingga. Hari itu terasa panjang. Dari bertemu Santo yang tak henti-hentinya menawarkan bisnis kelapa sawit, sampai mendengarkan cerita Anton dan Andri tentang cinta pertama yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan.

Ia menghela napas. "Capek juga, ya ...."

Namun alih-alih langsung naik ke unitnya di lantai dua belas, Erwin memilih mampir dulu ke lounge apartemen. Tempat itu cukup nyaman. Ada sofa empuk, aroma kopi yang samar, dan musik jazz pelan yang mengalun dari speaker tersembunyi. Saat itulah ia melihat seseorang melambaikan tangan.

"Mas Erwin!"

Erwin menoleh.

Seorang perempuan berambut sebahu mengenakan blazer krem duduk di dekat jendela sambil memegang secangkir cappuccino.

Orang itu adalah Anggita, tetangganya.

"Eh, Mbak Anggi."

"Duduk sini, Mas."

Erwin tersenyum lalu menghampiri.

"Aku ganggu nggak?"

"Nggak sama sekali."

Erwin duduk berhadapan dengan Anggita. Perempuan itu bekerja di bagian advertising sebuah perusahaan mi instan besar. Orangnya ceria, supel, dan sering membawa laptop ke lounge untuk bekerja sambil menikmati kopi. Mereka sudah beberapa kali mengobrol, tapi sebatas basa-basi.

Hari ini rupanya berbeda. Selain Anggita yang sedang menyesap cappuccino, kelihatannya mau ada obrolan menarik di antara mereka berdua.

"Jadi, Mas Erwin masih jomblo?"

Erwin terkekeh. "Yah, masih betah aja. Emang kenapa? Ada yang aneh?"

Anggita ikut tertawa. "Mas Erwin nggak gay, kan?"

Hampir saja nasi goreng yang baru masuk ke mulut Erwin tersangkut di tenggorokan. Ia terburu-buru minum air.

"Ya ampun, Mbak Anggi."

Anggita tertawa sampai memegangi perut, berkata, "Maaf, maaf ...."

Erwin menggeleng-geleng. "Yah, nggak lah."

"Serius?"

"Serius."

"Lah terus kok santai banget nge-jomblo? Nggak tertarik buat cari pacar?"

Erwin menyandarkan tubuh ke kursi, lalu menjawab, "Ya karena fokus aku bukan nyari pasangan dulu."

"Tapi umur Mas udah ...."

"Tiga puluh delapan?"

Anggita mengangguk.

Erwin tertawa. "Karier dulu. Bisnis dulu. Sama, pelayanan dulu."

"Terus cinta?"

"Cinta kan nggak bisa dipaksa. Lagian, belum nemu perempuan yang sreg aja. Yang bisa bikin hatiku terus berbunga-bunga."

Kata-katanya sendiri itu membuat Erwin tiba-tiba terdiam. Karena mendadak sebuah nama muncul di kepalanya. Nama itu adalah Becky, teman sekolah minggu. Gadis yang pernah membuatnya deg-degan setiap Minggu pagi. Dulu Becky selalu duduk di baris kedua kelas sekolah minggu. Rambutnya panjang. Senyumnya manis juga. Entah kenapa Erwin selalu mencari-cari alasan untuk berbicara dengannya. Mulai dari meminjam pulpen, meminjam Alkitab, sampai pura-pura bertanya soal Matematika. Padahal ia hanya ingin mengobrol saja dengan Becky.

Hingga selama bertahun-tahun Erwin menyimpan perasaan itu. Namun keberanian tak pernah datang. Sampai suatu hari, saat usia Erwin tiga puluh tahun, ia melihat foto Becky di Facebook, yang sedang memakai gaun pengantin. Becky tersenyum di samping seorang pria. Teman pria itu merupakan teman sefakultasnya Becky. Selanjutnya, setahun kemudian, muncul foto lain. Becky sedang menggendong seorang anak perempuan kecil. Saat itu Erwin hanya menatap layar cukup lama. Ia tidak marah atau menangis. Hanya merasa terlambat untuk menyampaikan isi hatinya.

"Kemana, Mas?" tanya Anggita.

Erwin tersadar. "Hah? Maksudnya?"

"Melamunnya jauh banget kamu, Mas Erwin."

Lihat selengkapnya