Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #47

Tak Salah Membaca Teenlit

Erwin baru menyadari satu hal ketika ia pertama kali masuk ke rumah Santo sore itu. Rumahnya itu sederhana. Tidak besar dan mewah. Cat temboknya bahkan mulai memudar di beberapa sudut. Di ruang tamu hanya ada sofa tua berwarna cokelat, rak buku kayu, dan kipas angin berdiri yang sesekali berdecit.

Akan tetapi, ada sesuatu yang membuat Erwin tertegun. Itu adalah sebuah rak buku. Tak hanya satu, tapi ada beberapa. Banyak sekali rak buku malah, yang Erwin tengok.

"Astaga ..." gumam Erwin.

Santo yang sedang menuang kopi tertawa, lalu bertanya, "Kenapa?"

"Gue kira selama ini lo cuma baca berita ekonomi sama laporan perkebunan sawit."

"Emangnya kenapa?"

Erwin menunjuk rak, lalu bertanya, "Itu apaan?"

Santo menoleh, menjawab, "Oh."

"Oh?" Erwin melongo. "Lo bilang oh?"

Rak itu penuh. Ada buku sejarah, filsafat, teologi, politik, ekonomi pembangunan, bahkan hubungan internasional. Bahkan Erwin melihat beberapa buku tebal yang pernah ia lihat di perpustakaan kampus.

"Gila ..." kata Erwin. "Ini serius lo baca?"

"Sebagian besar."

"Sebagian besar?"

"Iya."

Erwin mengambil salah satu buku. Tentang sejarah Indonesia tahun 1960-an. Lalu matanya tertuju ke arah buku lain. Yang tentang hubungan agama dan negara. Lalu pindah ke buku lain lagi. Tentang konsili gereja.

"Astaga, Santo..."

Santo tertawa. "Lo kenapa dari tadi, sih? Biasa aja, lah."

"Gue minder, lah."

"Minder kenapa?"

"Gue selama ini cuma seringnya baca teenlit."

Santo meledak tertawa. Suara tawanya memenuhi ruang tamu.

"Win ..."

"Apa?"

"Baca teenlit juga nggak salah kok."

Erwin mengangkat alis.

Santo menyerahkan secangkir kopi, lalu melanjutkan ucapannya, "Kadang baca teenlit bisa bikin otot-otot syaraf mengendur."

"Masa?"

"Iya."

"Lah lo baca juga emangnya?"

"Pernah, dan sampai sekarang malah, kalau lagi stres ngurusin bisnis sawit."

Lihat selengkapnya