Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #48

Erwin Tertarik Juga

Malam itu hujan turun pelan di luar rumah Santo. Bukan hujan deras yang menggemuruh, melainkan gerimis panjang yang membuat suasana terasa tenang. Di ruang tengah rumah sederhana itu, Santo sedang menyeduh kopi. Anton dan Andri duduk di depan televisi yang volumenya nyaris tak terdengar

Erwin datang sekitar pukul delapan malam

"Masuk, Win!" seru Santo

Erwin melepas jaketnya lalu duduk

Begitu duduk, ia langsung berkata, "Gue pikir-pikir lagi soal kebun sawit itu.

Anton dan Andri langsung saling pandang

Santo tersenyum tipis, dan berkata sumringah, "Oh ya?"

"Iya, serius."

"Terus?

Erwin mengembuskan napas panjang, dan membalas, "Gue ikut tawaran lo?"

Santo yang biasanya santai mendadak tertawa keras;"Serius?

"Serius, lah. Kelihatan kan, dari muka gue?"

Andri bahkan sampai bertepuk tangan, saat berkata, "Puji Tuhan akhirnya!"

Anton ikut terkekeh. "Gue kira Bang Erwin bakal nolak terus sampai umur lima puluh."

Erwin menggeleng. "Jangan lebay, ah!"

Namun sebenarnya keputusan itu tidak mudah. Sebab, selama berbulan-bulan Santo terus membicarakan peluang bisnis perkebunan di sekitar Balige. Itu juga bukan investasi instan atau sebuah skema cepat kaya. Bukan juga bisnis yang hasilnya bisa dipetik dalam hitungan minggu. Bagaimanapun sawit butuh waktu, kesabaran, modal, tenaga, dan yang paling sulit menurut Erwin, bisnis sawit itu butuh keyakinan

Santo menyerahkan secangkir kopi, lalu berkata, "Nah, sekarang cerita. Jelasin ke gue."

"Cerita soal apa?"

"Kok bisa berubah pikiran?"

Erwin terdiam sejenak, lalu menatap hujan di luar jendela, dan akhirnya berkata, "Gue capek hidup setengah-setengah. Itu aja. Yah, gitu aja, sih."

Anton dan Andri langsung diam.

Erwin melanjutkan, "Gue sadar selama ini gue terlalu banyak mikir."

"Emangnya salah?" tanya Andri

"Nggak juta, sih."

"Terus?"

"Terlalu banyak mikir kadang bikin kita nggak jalan."

Santo mengangguk pelan. Ia tahu persis karakter Erwin. Temannya itu cenderung terlalu berhati-hati, banyak mempertimbangkan, banyak membuat simulasi, sampai akhirnya kesempatan lewat begitu saja.

Lihat selengkapnya