Warung makan di Pasar Modern BSD itu tidak pernah benar-benar sepi. Bahkan pada jam-jam yang seharusnya sepi sekalipun, selalu ada saja orang yang datang untuk sarapan terlambat, makan siang lebih awal, atau sekadar duduk sambil menyeruput kopi hitam. Pokoknya, selalu saja ada orang. Bahkan termasuk di waktu malam, ada saja orang mondar-mandir selain satpam.
Selanjutnya, tokoh utama kita, Erwin duduk di salah satu meja plastik berwarna hijau. Di depannya sudah tersedia segelas teh tawar hangat dan sepiring nasi merah dengan ayam bakar. Sementara itu Santo datang dengan langkah santai sambil membawa map biru tebal.
"Nah, akhirnya kita ketemu juga," kata Santo. "Dateng juga lo akhirnya. Kirain cuma speak-speak aja semalam di rumah gue."
Erwin mengangguk. "Gue penasaran juga sebenarnya. Dari kemarin lo ngomong sawit, sawit, sawit terus."
Santo tertawa. "Makanya gue ajak ketemu. Daripada lo cuma dengernya setengah-setengah."
Lalu Santo mulai meletakkan map di atas meja. Erwin memperhatikan map itu. Tebal-tebal, banyak kertas dan angka, dipenuhi grafik, dan benar-benar mirip proposal bisnis sungguhan. Walau sebetulnya itu bisa dikatakan sebagai proposal bisnis.
"Jadi gini, Win," Santo membuka halaman pertama. "Bisnis sawit itu bukan bisnis yang cepat kaya."
Erwin mengangkat alis. "Loh? Bukannya orang-orang bilang bisnis sawit itu duitnya deras?"
"Deras kalau udah jalan. Masalahnya orang sering cuma lihat panennya."
Santo menunjuk salah satu grafik, lalu melanjutkan kata-katanya, "Mereka nggak lihat proses lima sampai tujuh tahun sebelum panen maksimal."
Erwin mulai memperhatikan. Sembari memperhatikan, ia merasa Santo tidak sedang berjualan mimpi. Justru Santo terdengar sangat realistis daripada rekan-rekan bisnis lainnya.
"Kalau mau masuk kebun sawit, yang pertama harus dipahami adalah sabar."
"Sabar?"
"Sabar adalah kunci," Santo terkekeh. "Kalau mentalnya mau cuan minggu depan, mending jualan gorengan."
Erwin tertawa. "Jahat juga lo. Gitu-gitu lebih enak gorengan."
"Ha-ha-ha ... tapi kenyataannya begitu, Kawan ..."
Sebentar Santo minum air putih dalam tumbler, beberapa saat kemudian mulai menjelaskan. Ia detail menjelas tentang lahan, biaya bibit, pupuk, tenaga kerja, harga CPO yang bisa naik turun, risiko cuaca, risiko kebijakan pemerintah, hingga risiko pasar global.
Erwin mendengarkan dengan serius. Sesekali ia mengangguk. Sesekali pula ia bertanya. Semakin lama, semakin ia sadar bahwa bisnis sawit jauh lebih rumit daripada yang selama ini ia bayangkan.
Di sela-sela penjelasan itu, Erwin membuka media sosial. Sebuah unggahan muncul, yang berupa tulisan panjang, sederhana, tapi menarik perhatiannya.
"Simpan keluhanmu, dan ceritakan ketika kamu sudah sukses, maka itu akan menjadi success story yang menginspirasi."
Erwin membacanya perlahan.
Santo yang sedang minum es teh melirik, bertanya, "Apa tuh?"
"Postingan motivasi."
"Bagus?"
Erwin membacakan sebagian.
Santo mendengarkan sambil tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan sambil berkata, "Setuju dan nggak setuju sih gue."
"Pro-nya kenapa? Kontra-nya kenapa, kalau gue boleh tahu?"