Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #50

Belajar Bisnis di Toko Bangunan

Toko Bangunan Star Syndrome ternyata tidak sebesar jaringan toko bangunan modern yang sering muncul di pinggir jalan raya. Namun toko itu memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Itu adalah banyak pelanggan yang setia. Bangunannya berdiri di sudut jalan yang ramai. Cat biru mudanya sudah mulai pudar dimakan usia. Di depan toko berjajar semen, pipa PVC, cat tembok, keramik, hingga tumpukan besi hollow.

"Ini dia kerajaan om gue," kata Santo sambil memarkir mobil.

Erwin mengangkat alis, berkata, "Kerajaan apaan? Ini kan cuma toko bangunan, bukan bisnis kondominium."

"Sama ajalah. Lagian, ini udah ada sejak gue masih SD. Selain itu, dia juga punya bisnis-bisnis lainnya. Ditambah lagi, ini adalah kerajaan bisnisnya yang dibangun dari utang pelanggan, nota bon, dan doa supaya harga semen nggak naik tiap minggu."

Erwin tertawa.

Begitu masuk, aroma khas toko bangunan langsung menyambut mereka. Campuran bau semen, kayu, cat, dan debu.

Di balik meja kasir duduk seorang pria Tionghoa berusia sekitar lima puluhan dengan kepala hampir botak.

"Koh Acid!" seru Santo.

Pria itu mendongak, membalasnya, "Wah, Santo! Masih hidup rupanya."

"Masih, lah."

"Sayang sekali."

Mereka tertawa bersamaan.

Erwin langsung paham bahwa hubungan paman dan keponakan ini memang akrab sekali.

"Koh, ini teman gue. Namanya Erwin."

Koh Acid menjabat tangan Erwin erat.

"Nama asli saya Rasheed sebenarnya."

"Kenapa dipanggil Koh Acid?" tanya Erwin iseng bertanya sebagai basa-basi.

Rasheed menghela napas panjang, lalu menjawab, "Karena waktu muda saya jerawatan."

Santo langsung ngakak. "Boong, Win, boong ..."

"Ya, udah karena saya dulu suka musik rock."

"Boong lagi si Om, ah ..."

Rasheed menyerah, lalu berkata, "Sebenarnya karena teman-teman bilang muka saya asem."

Kali ini bahkan Erwin ikut tertawa.

Mereka duduk di area belakang toko yang dijadikan ruang istirahat sederhana. Ada dispenser, meja kayu, dan beberapa kursi plastik.

Santo mengambil kopi saset.

Sementara Rasheed mulai membuka pembicaraan, "Jadi Santo bilang kamu tertarik bisnis?"

"Masih belajar sih, Koh."

"Bagus."

"Bagus?"

"Kalau masih mau belajar artinya belum merasa paling pintar."

Erwin mengangguk. Ucapan Koh Acid itu sederhana tapi terasa mengena.

Rasheed lalu menunjuk ke arah toko, berkata, "Lihat semua ini."

Lihat selengkapnya