Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #51

Lebih Lanjut tentang Bisnis Sawit

Bangku beton di depan minimarket itu sebenarnya bukan tempat yang istimewa. Letaknya tepat di bawah pohon ketapang kecil, di samping parkiran motor yang tak pernah sepi. Di depan mereka, orang-orang keluar masuk minimarket untuk membeli kopi botol, mi instan, dan kebutuhan harian lainnya.

Sore itu Erwin dan Santo duduk bersebelahan. Di tangan Santo ada tablet yang terus ia gulir dengan lincah. Sesekali pria itu memperbesar grafik, lalu memperlihatkannya kepada Erwin.

"Nih, lihat."

"Apa lagi?"

"Ini, tuh, harga CPO selama lima tahun terakhir."

Erwin mendekat dan melihat baik-baik. Di matanya, ada grafik naik-turun memenuhi layar.

"Kata orang-orang, sawit bakal turun."

"Apa iya se-nggak mungkin itu?" tanya Erwin. "Kadang gue suka denger hal yang sama dari beberapa orang."

"Bisa aja, sih," Santo menyeruput kopi kalengnya. "Semua komoditas bisa turun. Karet aja pernah jadi primadona. Dulu ada orang yang punya kebun karet, dia udah dianggap orang kaya."

"Terus?"

"Sekarang, lihat aja fakta di lapangan, banyak kebun karet berubah jadi sawit."

Erwin mengangguk.

Santo kembali menggulir tabletnya, dan melanjutkan kata-katanya, "Ada yang bilang durian premium lebih untung."

"Yang kayak Musang King?"

"Nggak cuma itu. Ada Monthong, Black Thorn, dan macem-macem varian."

"Intinya bagus dong seharusnya ..."

"Emang bagus, tapi perawatannya ribet," Santo terkekeh sambil menyesap minuman kopinya. "Lagian pohon durian premium itu kayak punya pacar yang manja."

"Duh, curcol lagi ..."

"Dengerin dulu, lah," Santo terkekeh. "Gue bisa ngomong gini, based on fact. Karena, salah perlakuan dikit. Si duren bisa ngambek. Kebanyakan air, ngambek. Kekurangan pupuk, masih tetap ngambek. Ada jamur sedikit, ngambek juga."

Erwin terkekeh, masih tetap memperhatikan penjelasan Santo, sambil menyeruput mi instan.

"Kalau sawit, Win ... wah, jauh lebih bandel."

Erwin tertawa. "Perumpamaan lu aneh. Gue curiga lo lagi ada masalah sama pacar lo yang kerja jadi marketing-nya gerai ayam goreng."

"Ntar kapan-kapan gue ceritain soal kelakuan absurd Amanda, Win," ujar Santo terkekeh. "Gedeg gue lama-lama sama dia."

"Tapi tetep cinta kan sama dia?"

Santo terkekeh, minum sebentar, dan melanjutkan penjelasannya tentang bisnis sawit, "Oke, lanjut ke sawit ... makanya nggak bisa fanatik sama satu tanaman."

Santo lalu memperlihatkan sebuah catatan dan berkata, "Menurut gue idealnya itu diversifikasi."

"Jadi ada empat tanaman?"

Lihat selengkapnya