Sore itu Erwin memilih bertemu dengan Iman di sebuah kedai kopi sederhana dekat BSD Plaza. Mereka sudah berteman sejak SMP. Meski tidak terlalu sering bertemu, keduanya masih menjaga hubungan baik. Apalagi, secara kebetulan, mereka sama-sama pernah terjun di dunia MLM. Hingga sekarang, malah. Hanya saja, perusahaan yang mereka ikuti berbeda.
"Eh, Win!" seru Iman sambil melambaikan tangan.
Erwin tersenyum dan membalas, "Man, makin gemuk aja lu."
"Lah, lu juga sama."
Mereka tertawa.
Setelah memesan kopi dan roti bakar, obrolan mengalir ke mana-mana. Awalnya hanya nostalgia tentang guru-guru SMP dulu.
"Inget Pak Damar? Yang suka bilang, 'Kalian ini generasi masa depan, jangan jadi tukang bolos!'" kata Iman.
Erwin tertawa. "Iya. Tapi ternyata anak paling bandel di kelas malah sekarang jadi kontraktor sukses."
"Yang rajin malah ada yang nganggur."
"Dunia memang lucu."
Tak lama, obrolan beralih ke bisnis.
"Lagi jalani MLM juga?" tanya Erwin.
Iman mengangguk. "Masih. Fokusnya di produk-produk kesehatan. Lu sendiri?"
"Masih juga. Bareng teman gue, Indri. Tapi beda perusahaan sama lu."
Iman terkekeh. "Dulu kalau masih muda, kita pasti udah debat nih."
"Iya, dan kita bisa saling bilang produk sendiri yang paling bagus."
"Padahal sama-sama jual suplemen, gak ada yang lebih bagus atau baik juga, sih."
Mereka tertawa lagi.
Erwin mengeluarkan sebotol madu herbal, dan mulai beretorika, "Ini produk gue."
Iman malah mengeluarkan kopi yang sekaligus obat kuat di atas ranjang, lalu berkata, "Nah, ini produk gue. Ampuh bikin stamina kita dahsyat. Ampuh juga buat adu perang bareng bini di atas ranjang."
Spontan keduanya tertawa terbahak-bahak. Alih-alih saling merendahkan, keduanya malah saling membeli produk masing-masing.
"Ya udah, gue coba produk lu."
"Gue juga coba produk lu."
"Kalau cocok, ya syukur."
"Kalau nggak cocok, ya kita tetap temenan."
"Best friend forever."
Bagi Erwin, usia memang mengubah banyak hal. Dulu, perbedaan sedikit saja bisa menjadi alasan untuk bertengkar. Sekarang, mereka justru saling mendukung. Namun, seperti biasa, Iman tidak bisa berhenti bermimpi.
"Win, gue pengen punya passive income dua ratus juta sebulan."
"Teruslah berusaha, Man."