Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #53

Andai Setiap Orang seperti Dia

Iman masih terkekeh kecil setelah mengucapkan kalimat itu. Ujung cangkir cappuccino-nya sudah hampir kosong. Sementara Erwin yang sedang menikmati kopi hitam tanpa gula, langsung mengernyit.

"Lebay lo," katanya sambil tertawa.

Iman menggeleng.

"Serius, Win. Gue kagum sama Andri."

Erwin menyandarkan tubuhnya di kursi.

"Kagumnya kenapa? Emang dia pernah jadi tentara? Atlet MMA? Atau pernah jatuh dari lantai tiga terus hidup?"

Iman tertawa.

"Bukan. Ketahanan mental."

"Lu tadi udah bilang."

"Iya. Dan gue serius."

Mereka masih duduk di coffeeshop yang sama di kawasan Gading Serpong. Sore itu tidak terlalu ramai. Musik jazz pelan mengalun dari speaker. Di luar, langit agak mendung.

Erwin mengaduk kopinya, lalu berkata, "Andri itu kan sepupunya Santo. Gue nggak nyangka kalian saling kenal."

Iman mengangguk. "Dulu kami kerja di bidang yang sama."

"Jadi editor maksudnya?"

"Bukan editor. Lebih tepatnya tim kurasi. Menyeleksi buku-buku yang layak dipasarkan."

"Oh ..." Erwin sepertinya tertarik.

"Buat penerbit gitu?"

Iman mengangguk. "Dua perusahaan berbeda. Tapi sering ketemu di pameran buku dan rapat asosiasi."

"Terus?"

Iman tersenyum. "Lu tahu nggak kerjaannya itu berat?"

"Beratnya gimana?"

"Kita bisa baca seratus halaman, dua ratus halaman, bahkan lima ratus halaman. Terus memutuskan apakah buku itu layak diterbitkan."

"Lah itu kan biasa aja, Man."

"Biasa dari luar," Iman tertawa. "Kalau salah memilih, perusahaan bisa rugi ratusan juta. Kalau terlalu ketat, penulis marah. Kalau terlalu longgar, pembaca kecewa. Belum lagi tekanan dari penulis terkenal yang merasa namanya cukup buat menjual buku."

Erwin mengangguk pelan.

"Terus Andri?"

Iman tersenyum. "Andri orangnya kalem banget."

"Kalem yang gimana? "

"Gue pernah lihat seorang penulis marah besar dan sampai ngamuk," Iman tertawa kecil. "Dia bilang Andri membunuh kreativitasnya. Dibilang nggak paham sastra. Dibilang Andri suka sok pintar. Bahkan Andri sampai dimaki habis-habisan."

"Terus?"

"Andri cuma bilang, 'Pak, kalau naskah ini bagus, pembaca akan menemukan jalannya. Tapi saya juga punya tanggung jawab kepada penerbit di mana saya kerja.'"

Erwin terkekeh. "Sok cool amat."

"Makanya itu, tadi gue udah ngomong," Iman menggeleng kagum. "Gue--kalau di posisi dia--mungkin udah emosi."

Erwin tertawa. "Lu kan emang gampang tersinggung."

Iman langsung melotot, coba membantah, "Eh, nggak juga."

Lihat selengkapnya