Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #54

Tentang Seleksi Buku

Hujan tipis kembali turun di luar coffeeshop yang sudah mulai akrab bagi Erwin. Tempat itu tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk menjadi tempat orang-orang seperti dirinya menghabiskan waktu, mengobrol, atau sekadar mencari ide.

Kali ini Erwin datang lebih awal. Tak lama kemudian Iman muncul dengan kemeja kotak-kotak kesayangannya. Beberapa menit setelah itu, seorang pria berkacamata dengan wajah tenang datang sambil membawa tas selempang hitam. Orang itu adalah Andri.

"Maaf telat," kata Andri, sambil tersenyum.

"Masih lima menit, Ndri," kata Erwin.

"Kalau Santo, lima menit itu udah dianggap besok."

Mereka sekonyong-konyong tertawa.

Setelah memesan kopi dan roti bakar, pembicaraan mulai mengalir. Erwin yang memang penasaran dengan pekerjaan lama Iman dan Andri, segera membuka topik.

"Kalian dulu seruangan ya?"

Iman mengangguk. "Satu divisi."

Andri terkekeh. "Divisi yang paling sering bikin orang dibenci."

"Hah?"

"Anggap saja itu sebagai kurator naskah."

Erwin mengangkat alis, lalu bertanya, "Segitunya?"

Andri mengangguk. "Bos kami, Win, pernah nanya ke kita dalam satu ruangan, kalau buku ini dijual di pasaran, reaksi orang-orang jadi gimana?"

Spontan Andri tertawa kecil mengenang masa-masa itu. Ia melanjutkan kata-katanya, "Dan pertanyaan itu ternyata berat. Karena bukan soal bagus atau jelek."

"Terus soal apa?"

"Apakah buku itu membawa manfaat, apakah memicu salah paham, apakah ada data ngawur, apakah bisa bikin orang tersinggung tanpa alasan yang jelas. Yah, begitulah, kurang lebih, Win."

Erwin menyandarkan tubuhnya, masih kembali bertanya, "Berarti kerjaan kalian semacam sensor juga?"

Andri menggeleng. "Bukan sekadar sensor. Dulu itu, kami cuma mikir, setelah orang membaca buku ini, mereka akan jadi lebih baik atau malah lebih buruk. Yah, gitu, lah."

Iman ikut tertawa.

"Kadang lucu juga."

"Kenapa?"

"Ada buku yang bahas sejarah, terus kita harus cek referensinya."

Andri mengangguk. "Ada yang referensinya kuat. Dan ada yang sumbernya cuma katanya."

"Katanya siapa lagian? Katanya, mbak-mbak tukang jamu di ujung komplek?"

Lihat selengkapnya