Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #55

Perenungan kala Subuh

Tak biasanya Erwin terbangun di sekitar jam empat subuh. Suara azan subuh bahkan terdengar saat Erwin sedang ber-saat teduh. Ia bahkan masih berada di atas tempat tidur. Di dekatnya, ada Alkitab, sebuah buku renungan, dan ... anggap saja, buku catatan harian.

Sejenak Erwin membaca nats hari ini. Ia menuliskan sesuatu di buku catatannya, lalu teringat dengan pengalamannya beberapa hari ini. Yang bertemu dengan Santo, Iman, dan pertemuan lewat videocall dengan Andri. Baru ia sadari sekarang, ia seperti déjà vu. Rasa-rasanya ia macam pernah mengalaminya beberapa tahun lalu. Bentuknya agak berbeda, tapi tentu saja pernah mengalaminya.

"Tetap déjà vu, kan?" desis Erwin, lalu kembali membaca buku renungan tersebut.

"Yesaya dan Wahyu berbicara tentang Babel sebagai simbol kekuatan dunia. Pada saat itu yang dimaksud superpower adalah militer dan ekonomi. Kalau kita baca Yesaya beberapa kali nats tersebut, Tuhan berkali-kali menegur Damsyik atau Tirus. Kekuatan ekonomi bisa membuat sebuah bangsa menjadi sombong dan banyak negara bersekongkol dengan Babel. Bahkan itu termasuk umat Allah.

Itu mungkin seperti Lot yang memilih tanah yang subur dan gembur. Ia memilih tinggal di daerah sungai atau perairan yang subur untuk tanah sekelilingnya.

Apakah kita terlalu bertumpu pada kekuatan ekonomi suatu negara? Ingin menjadi warga negara dari negara tertentu?

Kita harus ingat Tuhan bisa menjadikannya kering, yang oleh sebab kejahatan penduduknya. Nats ini seolah mengajarkan kita untuk selalu bergantung pada Sang Anak Domba. Seperti yang tertuang di dalam Wahyu 17:14, bahwa mereka akan berperang melawan Anak Domba, tapi Anak Domba akan mengalahkan mereka. Artinya, percayalah pada Anak Domba. Percayalah dan bergantunglah pada Allah.

Makanya, berdasarkan ayat di Wahyu tersebut, sudah seyogyanya kita mendoakan pemerintah kita. Serahkan mereka ke dalam tangan kedaulatan Anak Domba. Hanya Anak Domba yang bisa menggerakkan hati presiden."

Erwin berhenti membaca. Satu-dua ayat menarik yang ia temukan, dituliskan dalam buku catatan hariannya. Sembari ia menuliskan ulang apa saja yang ia alami dalam beberapa hari terakhir.

Tulisnya di awal tulisan: "Ya, Tuhan, aku ikhlas kalau harus mengalami kejadian-kejadian seperti itu lagi. Tegurlah aku lewat beberapa peristiwa. Ingatkan aku lewatkan sesamaku."

Matahari bahkan belum muncul ketika Erwin menutup buku renungannya. Suara azan subuh masih samar terdengar dari kejauhan. Lampu kamar masih redup. Udara dingin dari pendingin ruangan membuatnya menarik selimut sedikit lebih tinggi.

Di atas tempat tidur, di samping Alkitab dan buku catatan hariannya, ponselnya menyala. Ada beberapa notifikasi yang belum ia buka. Notifikasi dari gup WhatsApp keluarga. Ada juga yang promosi usahanya. Pun, ada pesan dari Santo yang ternyata dikirim pukul dua belas malam.

"Win, kalau jadi ke Balige, bilang ya. Jangan kebanyakan mikir. Hahaha."

Lihat selengkapnya