Sabtu pagi itu, Erwin sebenarnya tidak punya rencana khusus. Ia hanya berniat bertemu Santo untuk membicarakan perkembangan rencana bisnis sawit mereka. Namun ketika Santo mengirimkan lokasi lewat WhatsApp, Erwin sempat mengira temannya salah kirim.
Masakan Santo main-main ke studio pilates? Orang sesangar Santo--dengan berewok lebat--ke studio pilates?
Erwin bahkan sempat membaca ulang alamatnya, "Studio pilates? Santo?"
Ketika sampai di tempat itu, Erwin melihat Santo duduk di area tunggu sambil memainkan tablet. Sesekali pria itu menyesap kopi dingin dari gelas plastik yang dibelinya di minimarket sebelah.
"Win!" seru Santo.
Erwin tertawa. "Gue kira lo salah kirim lokasi."
"Gue lagi nemenin Mariana lagi kelas pilates."
Barulah Erwin melihat seorang perempuan berambut sebahu keluar dari ruangan dengan pakaian olahraga dan handuk kecil di lehernya.
Mariana, pacar Santo. Perempuan itu tersenyum ramah dan menyapa, "Oh, ini Mas Erwin ya? Akhirnya ketemu juga."
Erwin mengangguk sambil tersenyum, lalu merespon, "Jadi selama ini yang bikin Santo lupa balas chat, ternyata Mbak Mariana ini."
"Waduh, jangan buka kartu dong ..." Santo tertawa.
Mariana malah ikut tertawa. "Mas Santo--kalau di rumah--masih buka laporan sawit, kok."
Mereka bertiga kemudian duduk di area lounge studio.
"Aku pesenin teh, bentar," kata Mariana.
Sambil menunggu pesanan, Erwin memperhatikan ruangan di seberang yang dipenuhi alat-alat asing baginya.
"Jujur, gue nggak ngerti beginian."
Mariana tertawa. "Mas Erwin taunya treadmill sama sepeda statis ya?"
"Ketahuan, deh ...."
"Kalau pilates beda, Mas."
"Bedanya di mana?"
Mariana mulai menjelaskan dengan antusias.
"Pilates itu fokus ke core."
"Core?"
"Otot inti tubuh."
"Perut?"
"Kurang lebih begitu, Mas. Di sekitar perut, punggung, sama pinggul. Buat bikin postur badan lebih bagus."
Erwin mengangguk. "Terus tadi gue lihat ada alat mirip tempat tidur?"