Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #57

Obrolan Menarik di Apartemen Erwin

Sore itu apartemen Erwin terasa lebih ramai dari biasanya. Di atas meja makan sudah tersedia dua gelas kopi hitam, sepiring pisang goreng, dan beberapa lembar catatan yang berisi angka-angka hasil simulasi bisnis sawit yang selama beberapa minggu terakhir terus dibahas oleh Santo.

Tepat pukul empat sore, bel apartemen berbunyi. Erwin membuka pintu, dan berseru, "Masuk, To."

Santo datang dengan tas selempang cokelat dan tablet kesayangannya. Ia berkata girang dan mata berbinar-binar, "Wah, pisang goreng."

"Fokusnya ke makanan mulu lo, ah."

"Bisnis sawit nggak bisa jalan kalau perut kosong, Win."

Mereka tertawa.

Tak lama kemudian Santo sudah duduk di ruang tamu sambil membuka tablet. Grafik harga komoditas muncul di layar. Erwin memperhatikan beberapa angka yang baginya masih terlihat seperti kode rahasia.

"Jujur aja ya, To."

"Apa?"

"Kalau gue lihat beginian, kepala gue pusing."

"Makanya belajar, lah."

"Kok lo bisa betah sih?"

Santo terkekeh. "Karena sawit ngajarin gue sabar."

"Kata-kata itu lagi."

"Tapi bener, kan," Santo menyeruput kopi. "Sawit itu nggak peduli sama drama manusia."

"Maksudnya?"

"Dia nggak peduli lo lagi galau. Nggak peduli lo habis putus. Nggak peduli lo lagi viral juga. Nggak peduli netizen lagi ributin hidup lo. Dan, dia tumbuh sesuai waktunya."

Erwin tertawa. "Kayak lagi khotbah aja."

"Anggap saja begitu."

Mereka kembali membahas berbagai hal teknis. Mulai dari pengelolaan lahan, biaya operasional, hingga risiko harga komoditas. Namun setelah hampir satu jam, pembicaraan mulai melenceng seperti biasa. Santo sedang menggulir media sosial ketika ia menggeleng pelan.

"Aneh."

"Apa lagi?"

"Nih," Ia menunjukkan layar tablet.

Ada perdebatan panjang tentang seorang figur publik yang sedang menjadi bahan pembicaraan. Kolom komentar penuh pertengkaran. Sebagian orang membela. Sebagian lainya menyerang. Sebagian lagi hanya ikut-ikutan.

Santo tertawa kecil. "Lucu ya."

"Apanya?"

Lihat selengkapnya