Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #58

Tentang Business Judgement

Kembali Erwin bertemu dengan Santo. Mereka berdua bertemu di sebuah toko buah yang ada di kawasan Alam Sutera. Kebetulan, di lantai duanya, ada sebuah restoran. Restoran itu cukup ramai. Baru jam sebelas siang saja, restorannya sudah dikunjungi oleh banyak orang.


Sembari menyesap teh tawar, Santo mengeluh.

Erwin terkekeh. "Nggak biasanya lo ngeluh. Kebun sawit di Siantar sana, gagal cuan akhir-akhir ini?"

Santo menggeleng saat menjawab, "Eh, lo pernah denger soal business judgement?"

"Apaan tuh?"

Meski Erwin lulusan dari Fakultas Hukum, baru kali ini ia mendengar istilah yang disebut oleh Santo.

"Singkat cerita, waktu usaha lo dinyatakan pailit sama pengadilan, terus ada dugaan pelanggaran hukum, terus hakim mengambil keputusan, kalau itu bukan pelanggaran hukum, meski salah satu direksinya mengambil keputusan yang bikin rugi perusahaan. Kurang lebih begitulah, Win."

"Terus, hubungannya sama bisnis sawit kita, apaan, To?"

"Justru itu," Santo sejenak minum teh lagi, "perusahaan di mana usaha sawit ini bernaung, lagi ada trouble sedikit. Tulang gue, yang ada di bagian direksinya, salah ngambil keputusan. Gara-gara tulang gue itu, sebagian karyawan di CV Asri Nan Makmur belum digaji. Ada karyawannya yang nekat bawa ke pengadilan."

Santo lalu menunjukkan isi obrolan WhatsApp antara dirinya dan Tulang Abner Siallagan. Rekaman suara tulang-nya Santo diperdengarkan ke Erwin.

Erwin memasang earphone yang disodorkan Santo. Rekaman suara itu diputar. Suara seorang pria paruh baya terdengar berat, tetapi tetap tenang.

"To, sampaikan sama siapa pun yang bertanya. Aku memang yang tanda tangan keputusan itu. Aku nggak akan lari dari tanggung jawab. Tapi keputusan itu bukan buat memperkaya diri aku sendiri."

Rekaman berhenti sejenak karena suara kendaraan yang melintas.

"Waktu itu harga komoditas lagi turun. Bank juga masih nahan-nahan pencairan uangnya. Kalau aku nggak ambil keputusan itu, perusahaan bisa langsung berhenti beroperasi. Kupikir, situasinya masih bisa diselamatkan. Ternyata dugaan aku meleset."

Erwin mendengarkan tanpa memotong.

"Sekarang karyawan belum digaji. Mereka marah, ya wajar, kurasa. Aku juga nggak menyalahkan siapa-siapa."

Rekaman selesai.

Lihat selengkapnya