Untuk meredakan ketegangan akibat persoalan mendadak di perusahaan sawit tersebut, Santo sendiri yang mengajak jalan-jalan teman-temannya. Ada Anton, Andri, Erwin, Iman, dan pacarnya Santo sendiri, Mariana. Mereka bersantai sejenak di salah satu sudut Ancol.
Mariana lalu membuka obrolan yang sebelumnya masing-masing dari mereka hanya saling memperhatikan situasi pantai yang cukup ramai, meski mereka datang di hari selasa, yang kebanyakan orang berpikir hari selasa adalah hari kerja.
"Eh, pada tahu, gak?" Mariana minum sebentar es kelapa muda. "Di era 80-an, dari GBK ke Ancol, bisa naik Kopaja?"
Anton lalu sok menebak isi pikiran Mariana dengan bertanya balik, "Kamu tahu dari film Warkop DKI yang 'Mana Bisa Tahan' yah?"
Mariana tertawa, mengangguk, lalu menjawab, "Iya, ketebak yah?"
Iman menimpali, "Itu waktu Ancol baru awal-awal dibuka. Sebelumnya Ancol itu namanya Binaria, yang sempat heboh gara-gara sering dijadikan tempat prostitusi."
"Gara-gara layanan drive in itu, kan?" Anton kembali berkata-kata.
"Sebagian orang memang mengaitkannya dengan itu," jawab Iman. "Tapi sejarahnya lebih panjang. Kawasan pesisir itu dulu berkembang bertahap sebelum akhirnya ditata menjadi tempat rekreasi keluarga."
Erwin yang sejak tadi menikmati semilir angin laut hanya tersenyum mendengarkan percakapan mereka. Sesekali ia memperhatikan anak-anak kecil yang berlarian di tepi pantai, sementara beberapa wisatawan sibuk berfoto dengan latar laut yang mulai berkilau diterpa matahari siang.
Santo menyandarkan tubuhnya ke bangku kayu, dan berdesis, "Lucu ya."
"Apanya yang lucu?" tanya Mariana.
"Tempat aja bisa berubah."
"Maksudnya kamu apa?"