Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #61

Seperti Diingatkan Sopir Taksi Daring

"Jangan di kopitiam itu, Win, abort. Ganti lokasi."

Begitulah isi pesan Santo di aplikasi WhatsApp. Santo meminta Erwin untuk menunda lokasi pertemuan. Awalnya akan terjadi di Cheng Li Kopitiam yang ada di dekat Danau Sogo, Alam Sutera. Mendadak Santo minta lokasi pertemuannya di gerai restoran cepat saji yang ada di Teraskota, BSD.

Mau tak mau, Erwin menurut saja. Toh, Santo juga yang membayarkan ongkos taksi daring dari Alam Sutera ke BSD. Selang sekitar sepuluh menit, Santo mentransfer uang sebagai ongkos jalan Erwin.

Selama dalam perjalanan, Santo mengabarkan lewat WhatsApp lagi, dan berbunyi, "Gue on the way, Win. Sabar aja. Maaf mendadak minta ganti lokasi pertemuan. Soalnya Pak Ferdinand udah mencium bau-bau ada yang ngikutin."

Saat membaca balasan sahabatnya tersebut, jantung Erwin berdebar-debar. Sekonyong-konyong ia teringat dengan kasus yang menimpa tulang-nya Santo di Balige. Mendadak pula Erwin merasa itu sungguh keputusan yang buruk untuk menerima tawaran Santo berbisnis sawit. Bagaimana jika ia malah dijadikan tumbal atas kasus yang menimpa keluarganya Santo--yang dari pihak ibunya Santo?

Sekonyong-konyong sopir taksi itu seperti mengajak Erwin mengobrol, saat berkata, "Sekarang orang-orang korupsi itu makin lama, makin canggih, Bang."

"Maksudnya?" tanya Erwin berdebar-debar, sambil mengernyitkan dahi.

"Iya, makin canggih sekarang," jawab si sopir taksi berkumis sambil sesekali menghela. "Apalagi sekarang ada yang namanya crypto. Pembayarannya bisa saja dengan uang digital. Tak perlu dengan uang yang bisa dimasukin ke rekening."

Sebentar sopir taksi itu menyalakan radio. Seorang penyiar sedang memberitakan suatu sidang pengadilan, di mana pelakunya harus menjalani hukuman lima belas tahun penjara.

"Bang," lanjut si sopir taksi, "Begitu maksud saya, makin lama, makin canggih. Selain soal uang pembayarannya, bahkan pertemuannya pun bisa saja dengan webinar, video call, dan yang namanya Skype pun masih ada. Jadi, tak harus bertemu secara nyata di suatu tempat."

Erwin sekonyong-konyong menelan saliva. Jantungnya makin berdebar-debar. Ia teringat kembali dengan kasus tulang-nya tersebut. Bagaimana jika tulang-nya Santo itu memang terbukti melakukan korupsi?

Erwin memalingkan wajahnya ke arah jendela. Pepohonan yang berbaris di sepanjang jalan menuju BSD tampak berlalu begitu cepat. Entah mengapa, ucapan sopir taksi tadi terus berputar-putar di kepalanya.

"Korupsi sekarang makin canggih ..."

Ucapan sederhana si sopir taksi itu justru membuat pikirannya semakin kusut. Ia membuka aplikasi WhatsApp lagi.

"Santai aja, Win. Jangan panik dulu. Nanti gue jelasin semuanya."

Erwin menarik napas panjang.

"Mudah-mudahan memang cuma gue yang kepikiran aneh-aneh," gumam Erwin.

*****

Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan Teraskota BSD. Begitu turun, Erwin langsung menuju restoran cepat saji yang sudah disepakati. Santo ternyata sudah lebih dulu datang. Sahabatnya itu mengenakan kemeja kotak-kotak biru dan celana jins. Di atas meja sudah tersedia dua gelas kopi dan sepiring kentang goreng.

"Wajah lo kusut banget," ujar Santo sambil tertawa kecil.

"Ya gimana nggak kusut?" Erwin langsung duduk. "Gue dari tadi kepikiran omongan sopir taksi."

"Apa soal korupsi?"

Erwin mengangguk.

"Terus?"

"Jangan-jangan gue salah masuk ke dalam bisnis."

Santo menggeleng pelan. "Justru makanya itu, gue pindahin lokasi."

"Kenapa harus pindah lokasi?"

Santo menoleh ke kanan dan kiri memastikan tak ada orang yang memperhatikan mereka. Barulah ia melanjutkan kata-katanya, "Pak Ferdinand bilang jangan terlalu sering ketemu di tempat yang sama."

Erwin mengernyitkan dahi dan bertanya, "Alasannya apa?"

Lihat selengkapnya