Tak biasanya Erwin membatalkan kesepakatan bisnis dengan temannya, Santo. Apalagi itu terjadi setelah pengacara itu pun membatalkan kerjasama antara Pengacara Ferdinand dan Tulang Abner, pamannya Santo tersebut. Mendadak Erwin merasa tidak aman dan nyaman untuk melanjutkan kerjasama dengan Santo dalam bisnis sawit.
Menurut insting Erwin, memang terlihat baik-baik saja. Namun ia merasa ada beberapa kejanggalan dalam bisnis sawit tersebut. Bahkan Erwin tak keberatan dengan omelan Santo, khususnya saat Santo berseru, "Pengecut!" kepada dirinya.
"Biarinlah, lo sebut gue pengecut," ujar balik Erwin. "Lagian biar langkah gue melambat, asal selamat sampai ke setiap gol gue, bro."
"Orang idealis kayak lo, nggak akan jadi apa-apa," umpat Santo melemparkan botol minuman manis ke arah Erwin. "Taik lo! Kesempatan emas malah lo sia-siain! Sama aja kayak lo nolak cewek cakep yang bilang sayang sama lo!"
Botol plastik itu meluncur pelan dan jatuh beberapa meter dari kaki Erwin. Isinya tinggal sedikit, sehingga tidak sampai melukai siapa pun. Beberapa pengunjung minimarket yang duduk di bangku luar sempat menoleh, tapi setelah melihat tidak ada keributan lebih lanjut, mereka kembali sibuk dengan urusan masing-masing.
Erwin menarik napas panjang.
"Ada masalah apa, Bang?" tanya karyawan minimarket dari balik pintu.
"Nggak ada apa-apa, Mas. Cuma salah paham," jawab Erwin sambil mengangkat botol itu dan meletakkannya ke tempat sampah.
Santo masih berdiri dengan wajah merah.
"Lo nyesel nanti!" bentak Santo. "Kesempatan kayak gini nggak bakal datang dua kali ke hidup lo, Nyet!"
Erwin menatap sahabatnya cukup lama. Ia mengenal Santo sejak masih belasan tahun. Ia tahu Santo bukan orang jahat. Santo pekerja keras, berani mengambil risiko, dan selalu optimistis. Namun beberapa bulan terakhir, ada sesuatu yang berubah. Santo terlalu bernafsu mengejar peluang.
"To ..."
"Apa?"
"Gue percaya lo pengin sukses."
"Terus?"
"Tapi gue juga percaya ada cara sukses yang bikin kita bisa tidur nyenyak."
Santo mendengus. "Bacot aja lo, Nyet!"
"Buat lo mungkin, tapi buat gue, cara yang lo sodori ke gue ini riskan banget."
Erwin berdiri, merapikan tas selempangnya, lalu berkata lagi "Gue nggak bilang bisnis sawit itu jelek. Sawit tetap komoditas yang penting. Yang bikin gue mundur bukan sawitnya."
"Terua?"
"Orang-orang yang ada di belakangnya. Itu yang gue takutin."
Kata-kata Erwin itu membuat Santo terdiam beberapa detik.
Erwin melanjutkan pelan, "Sejak Pak Ferdinand nolak dampingi Tulang Abner, gue mulai mikir. Belum lagi, ada cerita Budi Hartono soal dugaan penggelapan dana di kantornya. Terus ada beberapa transaksi yang penjelasannya nggak pernah benar-benar transparan."
"Itu cuma dugaan aja, bro!"
"Iya, gue paham!"