Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #65

Pertemuan dengan Seorang Pengacara

Pagi-pagi benar, di saat Erwin sedang membaca kitab suci di nats Yesaya 61 sampai ayat terakhir, pengacara bernama Ferdinand itu mengirimkan Erwin pesan ke WhatsApp.

"Erwin, bisa bertemu? Di Starbucks yang ada di SMS saja. Ada yang mau Amang bicarakan. Ada soal sahabat kau itu, si Santo. Kau susah menghubungi dia, kan?"

Erwin langsung membalas, "Beres, Amang. Saya bisa."

Singkat cerita, menit-menit berlalu begitu cepat. Tahu-tahu sudah jam 10:23. Erwin sudah duduk di dekat pengacara itu lagi. Ia kaget mendengar cerita Ferdinand bahwa Santo diamankan oleh pihak kepolisian atas perintah Kejaksaan Tangerang. Santo ditahan atas dugaan penggelapan dana. Bahkan ada kemungkinan tuduhannya tak hanya itu. Tentang pemalsuan paspor.

"Kompleks, Win," ujar Ferdinand dengan rahang mengeras. Saking tegangnya, Ferdinand seperti angin-anginan minum americano. "Itulah kenapa Amang sempat menolak kasusnya itu. Wakt tulang-nya datang, menawarkan Amang agar menjadi pengacaranya, Amang mikir-mikir dahulu. Banyak yang ganjil, Win. Memang tidak terlihat ada yang tak beres. Faktanya, ternyata banyak kejanggalan di mana-mana."

Sejenak Ferdinand minum dulu, baru berkata lagi, "Memang terlihat ada yang tak beres. Terlihat baik-baik saja. Tapi setelah diusut, astaga ... pening Amang dibuatnya!"

"Kayaknya benar sopir taksi yang saya temui waktu itu, Amang," sela Erwin minum chamomile tea. "Sekarang korupsi nggak harus masuk ke rekening. Nggak harus dalam bentuk uang fisik, bisa juga lewat uang digital. Nggak harus ketemuan. Bisa juga lewat Zoom."

"Nah, itu kau paham," kata Ferdinand seolah ada yang mengawasi obrolan mereka. "Hati-hatilah kau, jika diajak kerjasama bisnis. Biar rezeki kita kecil dahulu, yang penting aman dan membawa damai sejahtera."

Di saat itulah, ada dua orang terlihat seperti mendekati Erwin dan Ferdinand. Mereka mendadak duduk di dekat meja yang dekat sekali. Padahal ada beberapa meja yang masih kosong. Sudah begitu, salah seorang dari mereka mendadak berdeham dengan suara agak kencang, lalu memelototi Erwin. Ferdinand yang memelototi balik.

Suasana di dalam Starbucks mendadak terasa berbeda. Erwin yang semula mengira itu hanya kebetulan, mulai merasa ada sesuatu yang janggal. Kedua pria itu sama-sama mengenakan kemeja lengan panjang berwarna gelap. Salah satunya meletakkan ponsel di atas meja dengan layar menghadap ke bawah, sementara yang satunya lagi berkali-kali melirik ke arah Erwin dan Ferdinand.

Ferdinand tetap tenang. Ia mengaduk americano-nya perlahan, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Jangan menoleh terlalu sering," kata Ferdinand lirih tanpa menggerakkan bibir terlalu banyak.

Erwin menelan ludah, bertanya, "Kenapa, Amang?"

"Belum tentu mereka mengikuti kita."

Lihat selengkapnya