Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #67

Pengakuan Andri

Pada pukul 04.18, nada dering WhatsApp membangunkan Erwin dari tidurnya. Matanya masih setengah terpejam ketika melihat nama yang muncul di layar. Ternyata dari Mariana. Jantungnya langsung berdebar. Ia segera mengangkat panggilan itu.

"Halo?"

Di seberang sana terdengar suara Mariana yang serak, seperti baru saja selesai menangis.

"Mas Erwin ..."

"Iya, Mar. Ada apa?"

Mariana menarik napas panjang, berkata, "Aku baru dapat kabar."

"Kabar soal apa?"

"Soal Santo ..." Suara Mariana kembali terputus. "... ditahan."

Erwin langsung terduduk di atas tempat tidurnya, lalu bertanya, "Di mana?"

"Di Rutan Salemba."

Beberapa detik ruangan terasa sunyi.

"Kapan itu kejadiannya?"

"Tadi malam. Setelah proses pemeriksaan."

Erwin memejamkan mata. Meski beberapa hari terakhir ia sudah menduga situasi Santo semakin sulit, mendengar kabar itu secara langsung tetap membuat dadanya sesak.

"Aku mau ke sana pagi ini," kata Mariana lirih.

"Aku ikut, yah."

*****

Selanjutnya, pada pukul delapan pagi, mereka berlima sudah berada di dalam sebuah taksi daring. Mariana duduk di depan. Sementara di kursi belakang ada Erwin, Iman, Anton, dan Andri. Tidak banyak yang berbicara. Suasana di dalam mobil benar-benar terasa berat. Sesekali hanya terdengar suara navigasi dari ponsel pengemudi.

Anton memandang keluar jendela, berkata, "Baru minggu lalu kita masih ketawa-ketawa."

Iman mengangguk pelan. "Hidup memang cepat berubah."

Mariana kembali menyeka matanya, ikut berkata-kata, "Aku cuma pengen Santo kuat."

Erwin menepuk pelan bahunya dari belakang, membalasnya, "Semoga proses hukumnya berjalan adil."

Tak seorang pun ingin mendahului hasil proses hukum. Mereka hanya berharap Santo memperoleh kesempatan untuk membela dirinya sesuai ketentuan yang berlaku.

Untuk mengurangi ketegangan, Andri tiba-tiba membuka percakapan, "Win."

Lihat selengkapnya