Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #70

Tentang Prediction Market

Hujan semalam meninggalkan udara yang lebih sejuk. Erwin tiba lebih dulu di sebuah kafe kecil di kawasan Gading Serpong. Tempat itu tidak terlalu ramai. Di sudut ruangan, Andri sudah duduk sambil membuka laptop. Di sampingnya ada secangkir kopi hitam dan beberapa lembar catatan yang dipenuhi coretan.

"Maaf lama nunggunya," kata Erwin sambil menarik kursi.

Andri terkekeh. "Santai aja. Gue juga baru nyampe, Win."

Beberapa saat mereka hanya mengobrol ringan. Erwin sengaja tidak langsung menyinggung kasus Santo. Ia tahu, bagi Andri, perkara itu masih menjadi luka yang belum benar-benar mengering.

Setelah pelayan mengantarkan minuman, Andri tiba-tiba berkata, "Lo pernah nanya kan, gue kenal Smith dari mana?"

Erwin mengangguk. "Iya. Gue penasaran jadinya. Nggak nyangka, gue bisa temenan sama yang rada belok."

"Udah biasa, kali, gue dibilang belok," Andri tertawa kecil. "Lucunya ... semua gara-gara Santo."

Erwin mengangkat alis. "Loh, kok bisa gitu?"

"Panjang ceritanya," Andri menyandarkan punggungnya. "Dulu waktu Santo lagi sibuk cari investor buat proyek sawitnya, dia beberapa kali ketemu sama investor asing. Salah satunya ... ya Smith itu."

"Orang Skotlandia itu?"

"Iya."

"And then?"

"Waktu itu Santo lagi butuh orang yang bisa bantu nerjemahin beberapa dokumen sama komunikasi. Kebetulan bahasa Inggris gue lumayan."

Erwin mengangguk pelan."Jadi awalnya murni urusan kerja?"

"Seratus persen gitu sih," Andri tertawa mengingat masa-masa itu. "Tapi Smith itu orangnya aneh."

"Aneh gimana?"

"Kalau orang lain selesai meeting ngomongin untung-rugi investasi, dia malah ngajak ngobrol soal sejarah Indonesia."

"Hah?"

"Iya, gitu, Win. Dia bahkan pernah nanya kenapa sawit jadi komoditas penting di Indonesia. Terus nanya sejarah kolonial Belanda, bahkan sampai nanya kenapa banyak orang Batak merantau."

Erwin tertawa. "Investor rasa dosen itu namanya"

"Persis gitu, lah," Andri ikut tertawa. "Terus, abis meeting pertama, dia malah ngajak diskusi kopi. Meeting kedua ngomongin buku. Meeting ketiga ngomongin teknologi. Lama-lama ..."

Erwin menyela. "... ngomongin hati?"

Andri tertawa sambil menggeleng. "Nggak secepat itu, Win. Tapi, waktu pertama kali kenalan sama Smith itu, jantung gue, perasaan gue, duh, berantakan banget. Sempet mikir, ini cinta atau bukan. Ata cuma nafsu sesaat. Atau apa, lah, gitu."

Selanjutnya Erwin tertawa terbahak-bahak. Andri ikut terpingkal. Andri kemudian meneruskan ceritanya. Beberapa bulan kemudian, kata Andri, Smith mulai memperkenalkannya pada berbagai perkembangan teknologi finansial dan pasar digital.

"Dia pernah ngenalin gue sama prediction market."

Lihat selengkapnya