Mariana tampak jauh lebih pucat dibanding beberapa hari sebelumnya. Matanya sembap. Meski sudah mencoba tersenyum, Erwin bisa melihat bahwa perempuan itu belum benar-benar tidur nyenyak sejak Santo ditahan di Rutan Salemba.
Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di kawasan Gading Serpong. Iman datang beberapa menit kemudian sambil membawa tiga kotak roti.
"Gue beli sekalian," katanya. "Kalau ngobrol serius selama perut kosong, nanti malah makin stres."
Mariana terkekeh. "Makasih, Man."
Beberapa saat mereka hanya menikmati kopi masing-masing. Suasana masih terasa canggung.
Akhirnya Erwin membuka percakapan, "Pengacaranya dia udah ada kabar baru?"
Mariana menghela napas panjang, menjawabnya, "Belum banyak kabar positif, sih. Penyidik masih ngumpulin bukti. Aku cuma boleh ketemu sebentar."
"Santo gimana?"
Mariana menunduk dan menjawab Erwin, "Dia kelihatan capek. Tambah kurusan. Tapi dia bilang satu hal. Ngomong gini, 'Aku siap menghadapi semuanya.'"
Erwin mengangguk perlahan, berkata, "Baguslah kalau dia bisa ngomong gitu. Itu memang yang harus dia lakukan."
Iman ikut mengangguk. "Kalau memang dia merasa nggak bersalah di beberapa tuduhan, yah, dia harus buktikan lewat proses hukum. Kalau memang ada kesalahan, yah, harus hadapi. Jangan lari."
Mariana mengusap matanya, berkata lagi, "Yang bikin aku sedih ... banyak orang yang dulu dekat sama Santo sekarang menghilang."
Erwin hanya bisa tersenyum pahit dan berkata dengan cengiran lebar, "Itu sering terjadi. Waktu orang lagi sukses, temannya banyak. Tapi waktu lagi jatuh, baru kelihatan siapa yang benar-benar ada di dekat kita yang lagi jatuh."
Mariana mengangguk pelan. "Aku baru ngerti sekarang, makanya."
Agar suasana tidak semakin berat, Iman sengaja mengganti topik, "Eh, Kita ngomongin bola aja, yuk. Mumpung lagi hype Piala Dunia."
Erwin tertawa. "Lo emang rada, deh.Baru lima menit serius udah kabur."
"Yah, daripada nangis semua."
Mariana ikut tertawa kecil. "Boleh juga. Aku juga paham bola, kok."