Hari ini pun Mariana mengundang Erwin lagi. Mereka bertemu di Starbucks lagi. Masih di mal yang sama, Summarecon Mall Serpong. Mal dan kedai kopi waralaba itu cukup ramai di hari dan jam kerja.
Pada pukul 14.23, hari selasa, Mariana mulai bercerita. Perempuan itu menceritakan bahwa Santo tersandung kasus lain lagi. Ternyata diam-diam Santo diadukan ke polisi karena tuduhan penggelapan dana.
"Kok bisa, Mar?" tanya Erwin yang serasa tidak percaya, lalu sebentar minum caramel macchiato.
Mariana mengangkat bahu dan minum cappuccino, baru ia membalasnya, "Aku juga nggak tahu, Mas, Santo ternyata diam-diam kerjasama dengan temannya yang mengelola sebuah kafe di Bandung sana."
"Bandung-nya di mana?" tanya Santo, lalu minum lagi.
"Daerah Dago," Mariana ikut minum juga. "Dan, temannya itu mencak-mencak gara-gara kafenya di sana bangkrut. Tapi temannya itu merasa curiga. Kayaknya ada yang aneh sama cara kerja Santo dalam pengelolaan kafe. Mereka baru berani mengadukan ke polisi sejak tahu Santo lagi kesandung kasus sawit."
"Aku masih bingung, Mar," Erwin berdecak dan memperhatikan sekitar. Takut-takut ada yang memata-matai. "Bisa jelasin lebih banyak lagi?"
Selanjutnya, setelah Mariana minum dulu minumannya, perempuan itu bercerita bahwa temannya Santo yang bernama Riyan, datang menghubungi Mariana. Riyan awalnya agak kaget bahwa Santo sedang ditahan di Rutan Salemba. Berikutnya, Riyan pun menceritakan bahwa ia dan Santo merintis sebuah kafe anak muda di kawasan Dago, Bandung. Kafe untuk anak muda, lumayan laris di enam bulan awal, dan sebagian besar modal awal berasal dari Riyan dan keluarganya--dari ayahnya Riyan, Thomas Lengkong. Awalnya Riyan meragukan kecurigaan ayahnya saat ayahnya bilang Santo mungkin mencurangi Riyan. Namun, saat dilakukan penyelidikan internal, terbukti Santo tidak jujur dalam melakukan pelaporan audit keuangan. Belum lagi, Santo sering ngotot melakukan Excel. Padahal pacarnya Riyan, Grace, sudah minta agar jangan terlalu mengandalkan Excel dalam pencatatan keuangan. Belum lagi ternyata diam-diam Santo menggadaikan beberapa berkas hukum badan usaha kafe tersebut. Bahkan Santo berani mengundang Smithy O'Reilly sebagai investor tanpa prosedur yang benar dan hanya mengandalkan keyakinan buta.
"Astaga, berarti pacarnya Andri terseret juga?!" potong Erwin geleng-geleng kepala.
Mariana mengangguk lemah dan berkata, "Kata pengacaranya Riyan, Pak Sihombing, seharusnya begitu. Lagi dalam penyelidikan juga. Katanya, untung aja, perusahaan sawit kesandung kasus. Kalau nggak ..."
Erwin terdiam cukup lama. Cangkir caramel macchiato di tangannya sudah tidak lagi mengepulkan uap. Ia memandang keluar jendela Starbucks. Orang-orang berlalu-lalang membawa kantong belanja, anak-anak berlarian mengejar orang tuanya, sementara di mejanya sendiri, suasana terasa jauh lebih berat.
"... kalau nggak," Mariana melanjutkan dengan suara lirih, "mungkin semua ini baru ketahuan bertahun-tahun lagi."
Erwin menghela napas panjang, bertanya, "Pak Sihombing bilang begitu?"
Mariana mengangguk, dan berkata lagi, "Iya. Katanya, justru penyelidikan kasus sawit membuka banyak dokumen lain. Dari situ mulai kelihatan aliran transaksi yang sebelumnya nggak pernah diperiksa."
Erwin mengusap dahinya, membalas, "Efek domino. Kayak efek domino."
"Iya, bisa dibilang gitu, Mas," Mariana kembali membuka layar ponsel. "Aku dikirimin ringkasan kronologi kasusnya. Nggak semua bisa aku kasih lihat karena masih penyelidikan, tapi garis besarnya begitu."
Erwin hanya mengangguk. Ia mulai memahami mengapa beberapa minggu terakhir Ferdinand berkali-kali mengingatkannya agar berhati-hati memilih rekan bisnis. Saat itu Erwin sempat mengira Ferdinand terlalu berlebihan. Sekarang justru ia merasa nasihat itu menyelamatkannya.
Mariana kembali berkata pelan, "Yang bikin Riyan paling kecewa bukan cuma soal uang. Dia sempat ngomongin soal kepercayaan."
Erwin mengangguk pelan. "Itu memang lebih mahal sih, Mar."
"Riyan bilang, kalau dari awal Santo ngomong lagi kesulitan, mereka pasti cari jalan keluar bareng. Tapi yang terjadi justru laporan keuangannya diduga dimanipulasi sama Santo sendiri."
Erwin menatap meja. Ia teringat Santo yang dulu berkali-kali berkata bahwa bisnis dibangun dengan karakter. Sekarang semuanya terasa ironis. Justru karakter itulah yang sekarang dipertanyakan banyak orang.
"Tahu nggak yang paling bikin aku sedih?" tanya Mariana.