Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #73

Antara Meneruskan Hubungan atau Putus

Erwin berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul. Ia kembali menyesap minumannya, meski pikirannya kini terbagi antara pembicaraan dengan Mariana dan sosok pria berseragam biru dongker yang duduk hanya beberapa meter dari meja mereka.

Pria itu tampak seperti petugas keamanan mal. Rambutnya dipotong cepak, tubuhnya tegap, dan sebuah handy talky tergantung di pinggangnya. Namun, yang membuat Erwin gelisah bukanlah seragam itu, melainkan cara pria tersebut beberapa kali memandang ke arah mereka, kemudian berdeham cukup keras.

Mariana yang sedang memainkan sedotan cappuccino belum menyadarinya.

"Mas?" panggil Mariana.

"Maaf ..."

"Mas Erwin kok malah bengong?"

Erwin tersenyum tipis dan menjawab, "Nggak ... cuma lagi mikir."

"Mikirin soal Santo?"

"Iya ... dan beberapa hal lainnya juga."

Erwin tidak ingin membuat Mariana ikut cemas. Bisa saja pria itu memang sedang beristirahat atau sekadar kebetulan duduk di dekat mereka.

Erwin mengalihkan pembicaraan dengan berkata, "Kalau boleh jujur, Mar, hubungan itu memang diuji justru ketika keadaan lagi buruk."

Mariana mengangguk pelan. "Aku tahu."

"Tapi ada bedanya antara menemani orang yang sedang mengalami musibah dengan menemani orang yang terus-menerus menolak bertanggung jawab."

Ucapan Erwin itu membuat Mariana terdiam cukup lama.

"Aku masih belum tahu, dan masih bingung antara meneruskan hubungan atau putus saja."

Erwin menghela napas. "Saranku, tetap berada di sisi Santo. Kasihan dia, kalau kamu tinggal gitu."

Mariana menatap keluar jendela. Hujan tipis mulai turun membasahi pelataran Summarecon Mall Serpong. Orang-orang yang tadinya berjalan santai mulai mempercepat langkah mencari tempat berteduh.

"Aku pernah nanya ke Santo waktu awal dia ditahan," kata Mariana lirih.

"Nanyain soal apa?"

"'Kalau memang ada yang salah, kamu mau ngaku nggak?'"

"Terus dia jawab apa?"

"Dia malah bilang semuanya cuma fitnah."

"Seratus persen fitnah, yang dia ngomongin?"

"Iya."

Erwin mengusap dagunya, berkata, "Dalam perkara hukum, kita memang harus menghormati asas praduga tak bersalah."

"Iya, aku tahu."

"Tapi seseorang juga perlu berani mengoreksi dirinya sendiri."

Lihat selengkapnya