Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #74

Pertemuan dengan Pengacara Pangeran Lagi

"Setiap orang punya alasan untuk bertahan atau berubah haluan," ujar Pangeran Rerebulan menenggak kopinya, "Yang jelas, Bu Mariana, kapal harus berlayar sampai tujuan."

Baik Mariana dan Erwin malah semakin tegang. Apa yang dikatakan Pangeran--alias Geran--sama sekali tidak menenangkan situasi. Apalagi, setelah mereka berdua mendapatkan jadwal sidang Santo. Santo dan teman-temannya, terlebih tulang-nya Santo, akan menjalani sidang di tanggal 10 Agustus nanti.

"Jadi, gimana, Pak Geran?" tanya Erwin sama cemasnya dengan Mariana.

"Peluang Santo lolos dari jeratan hukuman pidana tinggi atau kecil?" lanjut Mariana.

"Yang saya bisa lakukan," jawab Pangeran, "cuma meringankan, Bu. Tapi, setelah saya perdalam, Santo bisa mendapatkan keringanan hukuman."

"Memang sebetulnya," sela Erwin, "yang saya lihat, ada salahnya Santo juga."

Kata-kata Erwin itu membuat Mariana syok. Mariana merasa patah semangat.

Mariana terdiam. Tangannya yang sejak tadi memegang cangkir kopi perlahan diturunkan ke atas meja. Uap cappuccino masih mengepul, tetapi pikirannya terasa jauh melayang.

"Mas Erwin," suaranya lirih. "kamu juga berpikir begitu?"

Erwin menarik napas panjang. Ia sadar ucapannya terdengar keras. Namun, sebagai seseorang yang pernah belajar hukum, ia merasa tidak tepat jika hanya menghibur tanpa berpijak pada kenyataan.

"Aku bukan sedang menghakimi Santo, Mar," kata Erwin pelan. "Justru karena aku menganggap dia sahabat, aku harus jujur."

Pangeran Rerebulan mengangguk kecil.

"Kejujuran itu penting," kata Pangeran. "Dalam perkara hukum, pembela yang baik bukan pembela yang menganggap kliennya selalu benar. Pembela yang baik adalah yang memahami fakta, lalu memperjuangkan hak-hak kliennya sesuai hukum."

Lihat selengkapnya