Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #75

Teror Kecil ke arah Mariana

Saat bergegas ke parkiran dan menuju mobil sedan Mariana, alangkah kagetnya mereka berdua saat mobil sedan itu dibaret. Panjang juga dibaretnya. Erwin sekonyong-konyong meraba-raba permukaan mobil tersebut. Mariana ikut pula.

"Brengsek!" semprot Mariana, "Kerjaan iseng siapa, sih? Jangan lempar batu, sembunyi tangan, dong!"

"Santo kira-kira punya musuh nggak, Mar?" Erwin mengalihkan pembicaraan ke arah yang berbeda.

Sekonyong-konyong Erwin teringat kejadian saat ia dan Mariana di Starbuck. Lalu ada laki-laki misterius yang berdeham dan memandanginya tajam.

"M-musuh?" Spontan Mariana menggeleng. "K-kayaknya nggak ada, deh. Menurut aku, Santo itu tipe orang di mana ada banyak orang yang demen sama dia."

"Masa?" tanya Erwin tak percaya. "Lah, ngurus bisnis segede itu, terus sampai tulang-nya diciduk gitu, masa nggak ada musuh?"

Mariana menghela napas panjang. Matanya masih terpaku pada goresan panjang yang membentang dari pintu depan hingga ke lampu belakang mobilnya.

"Aku benar-benar nggak tahu, Mas," hanya itu yang bisa dikatakan oleh Mariana.

Erwin berjongkok, mencoba mengamati bekas baret itu lebih saksama. Goresannya cukup dalam. Bukan seperti tersenggol troli belanja.

"Ini bukan lecet biasa," gumam Erwin. "Kelihatannya memang disengaja."

Mariana memejamkan mata beberapa detik, baru berkata berkata, "Kenapa harus sekarang?"

Erwin berdiri kembali dan membalasnya, "Coba kita jangan langsung menyimpulkan macam-macam."

"Tapi ini jelas disengaja."

"Iya, emang kelihatan banget. Justru, yang belum kita tahu adalah siapa pelakunya dan apa motifnya."

Mariana meraih ponselnya, berkata, "Aku panggil tukang parkir saja."

*****

Beberapa menit kemudian, dua petugas keamanan mal datang menghampiri.

"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?"

Mariana menunjuk bagian samping mobilnya, berkata, "Mobil saya dibaret."

Lihat selengkapnya