Santo seharusnya senang dikunjungi Mariana, Erwin, dan pengacaranya. Seharusnya demikian. Namun, apa daya, ia malah tidak bahagia. Ternyata, yang membuat Santo tidak senang adalah ekspresi Mariana saat datang berkunjung. Seperti ada yang hendak disampaikan perempuan Tionghoa tersebut. Sayangnya Mariana tidak berkata apa-apa.
Perkembangan terbaru dari kasus tulang-nya Santo. Ternyata ditemukan emas seberat 45 gram di kamar tulang-nya yang ada di Tangerang. Kasusnya berujung ke ayahnya Santo pula. Ayahnya Santo ikut terbawa, tapi belum ditetapkan sebagai tersangka. Nama ayahnya Santo disebut-sebut dalam sebuah obrolan tulang-nya Santo dengan beberapa pejabat pemerintah. Masih disebutkan dalam obrolan via WhatsApp, ayahnya Santo terindikasi melakukan suap kepada beberapa orang pejabat di lingkup Kementerian Lingkungan Hidup. Ini berkaitan juga dengan kasusnya Santo yang membiarkan beberapa sauna Anoa disembelih seenaknya di Sulawesi.
Sementara itu, di dalam mobil sedan, Erwin duduk di samping Mariana yang menyetir. Pengacara itu, Pangeran Rerebulan, duduk di belakang. Melihat kondisi mental Mariana, Pangeran tersenyum dan berkata, "Kuatkah menyetir? Biar saya yang menyetir."
Mariana tersenyum dan menjawab, "Saya kuat, Pak Geran. Makasih banyak."
"Pasti berat buat Bu Mariana," kata Pangeran menepuk pelan bahu Mariana, "berpacaran dengan seseorang yang mendadak kena kasus hukum dan harus ditahan."
"Dia bahkan sempat mau putus, Pak," sela Erwin keceplosan.
Mariana berdeham dan langsung membuka pintu mobil. Ia hanya berkata singkat, "Ya udah, lah, langsung masuk aja. Nanti aja saya ceritain semuanya waktu di jalan. Sambil nyetir."
Pangeran Rerebulan dan Erwin saling berpandangan sesaat. Keduanya memilih tidak melanjutkan pembicaraan itu di tempat parkir. Mereka sama-sama memahami bahwa tidak semua luka harus dibuka di hadapan banyak orang.
Begitu ketiganya sudah berada di dalam mobil, Mariana menyalakan mesin sedan berwarna abu-abu itu. Pendingin udara mulai berembus pelan. Untuk beberapa menit, tak seorang pun berbicara. Hanya suara mesin mobil dan deru kendaraan yang mengiringi perjalanan mereka meninggalkan rumah tahanan.
Mariana memfokuskan pandangannya ke jalan.
"Aku tadi sengaja diam di depan Santo," kata Mariana pelan.
Erwin menoleh dan balas bertanya, "Kenapa?"
Mariana menarik napas panjang dan menjawab, "Karena aku takut kalau aku ngomong, aku malah nangis."
Tak ada yang menyela.
"Dia terus lihat aku. Tatapannya beda. Seolah-olah dia tahu ada sesuatu yang sedang kupikirkan."
Pangeran mengangguk kecil dari kursi belakang, berkata, "Itu wajar."