Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #77

Ternyata Mariana Ingin Putus

Sekonyong-konyong, di saat mampir di sebuah rest area, sambil makan masakan Padang, Mariana meluapkan isi hatinya. Baik Erwin dan Pangeran kaget.

"Sebetulnya yang aku mau bilang tadi," kata Mariana agak sesenggukan, "waktu di rutan tadi, aku cuma mau bilang sama Santo, aku pengen putus."

"Tapi kenapa, Mar?" tanya Erwin dengan perasaan campur aduk. Saking campur aduknya, ia batal menyeruput jus alpukat.

Pangeran Rerebulan yang sejak tadi menyantap gulai ayam perlahan meletakkan sendoknya. Ia tidak langsung berbicara. Baginya, ada kalanya seseorang hanya membutuhkan ruang untuk mengeluarkan isi hati tanpa segera diberikan nasehat.

Mariana mengusap matanya dengan tisu, berkata sesenggukan, "Aku merasa jahat."

"Kenapa merasa begitu?" tanya Pangeran lembut.

"Karena dia lagi di titik terendah hidupnya. Justru di saat seperti itu aku kepikiran buat ninggalin dia."

Erwin menghela napas pelan. Ia bisa memahami pergulatan batin Mariana.

"Mar," kata Erwin hati-hati, "perasaan kayak gitu wajar muncul. Apalagi situasinya berat banget."

"Tapi aku takut orang-orang nanti bilang aku ninggalin dia pas dia lagi susah."

Pangeran mengangguk pelan. "Yang lebih penting bukan omongan orang."

"Terus apa, Pak Geran?"

"Apakah keputusan yang nanti kamu ambil lahir dari pertimbangan yang matang, atau hanya karena emosi sesaat."

Lihat selengkapnya