Benar-benar seperti efek domino. Tiba-tiba saja toko bangunan pamannya Santo dari garis ayah ini ditutup. Bahkan sudah ada garis kuning yang melintasi pagarnya. Tertulis di papan: "Disita pengadilan".
Hari ini, iseng saja Erwin mengunjungi toko bangunan Koh Acid alias Rasheed, yang merupakan adiknya Ptolemaus, ayahnya Santo. Ada dorongan tersendiri dalam diri Erwin, yang berhubungan erat ke apa yang Erwin baca tadi subuh.
Tadi subuh Erwin membaca kisah Elia yang kabur dari kejaran Raja Ahab. Kisah itu yang membuat Erwin ingin berkunjung ke sini. Ternyata dugaannya benar. Toko bangunan ini sudah ditutup. Entah sejak kapan.
Sekonyong-konyong seorang berkulit agak gelap menghampirinya. Ia memperkenalkan diri sebagai Dede.
"Temannya Bang Santo?"
"Iya, saya yang waktu itu pernah ke sini."
"Tiga hari lalu, ada orang-orang berpakaian seragam datang. Sempat ada ribut-ribut, Mas. Yah, akhirnya tempat ini ditutup."
Erwin tak berkata apa-apa lagi. Sepertinya ia tahu siapa, kenapa, dan bagaimana. Ia lalu berdiri beberapa saat di depan pagar yang telah dipasangi garis kuning. Angin sore berembus pelan, membuat pita bertuliskan "Disita Pengadilan" berkibar-kibar. Bangunan yang dulu ramai oleh suara truk bongkar muat semen, keramik, dan besi itu kini sunyi. Rolling door tertutup rapat. Halaman parkir yang dahulu penuh kendaraan pelanggan sekarang hanya menyisakan beberapa daun kering yang tertiup angin.
"Biasanya jam segini ramai banget, Mas," ujar Dede lirih. "Karyawan sampai susah cari tempat parkir."
Erwin mengangguk pelan. "Orang-orangnya pada ke mana?"
"Sebagian sudah cari kerja lain. Ada juga yang masih nunggu kabar. Kasihan, sih. Mereka cuma pegawai."
Ucapan Dede yang terakhir itu membuat Erwin terdiam. Ia teringat perkataan Koh Acid beberapa waktu lalu tentang pentingnya menjaga kepercayaan pelanggan. Betapa seriusnya pria itu menjelaskan bahwa menjual material bangunan bukan sekadar berdagang, melainkan ikut memikul tanggung jawab atas keselamatan sebuah bangunan. Kini toko itu justru berdiri tanpa kehidupan.