Erwin tiba di kawasan Babelan menjelang pukul sepuluh pagi. Jalanan perkampungan masih cukup ramai. Di depan beberapa rumah tampak pedagang sayur keliling, sementara anak-anak berlarian di gang kecil yang diapit rumah-rumah sederhana.
Rumah keluarga mendiang Namboru Emma tidak banyak berubah sejak terakhir kali Erwin datang beberapa tahun silam. Cat temboknya memang mulai memudar, tapi halaman kecilnya tetap bersih. Pot-pot bunga masih berjajar rapi di teras.
Belum sempat Erwin mengetuk pagar, seorang pria berkacamata dengan jaket ojek daring keluar sambil tersenyum.
"Bang Erwin?"
"Apa kabar, Hans?"
Pria itu langsung mengulurkan tangan dan menjawab, "Masuk, Bang. Maaf baru selesai naruh helm."
Erwin terkekeh. "Nggak ganggu, kan?"
"Ah, mana mungkin abang sepupuku yang paling jago nulis ini mengganggu aku, Bang."
Mereka duduk di ruang tamu yang sederhana. Di sudut ruangan terdapat foto besar mendiang Namboru Emma dengan bingkai kayu berwarna cokelat.
"Stevenson, adek gue, lagi kerja di daerah Fatmawati, Bang Erwin," ujar Hans sambil menuangkan teh hangat. "Kalau si Melda, cuti dari kantor buat nemenin Papa berobat katarak."
"Amangboru itu masih belum sembuh kataraknya?"
"Udah agak mendingan dari dua tahun lalu, sih."
Erwin mengangguk lega. "Puji Tuhan."
Hans ikut mengangguk. "Dokter bilang tinggal rutin kontrol."
Suasana menjadi hangat. Tak lama kemudian Hans membuka tas ranselnya dan mengeluarkan beberapa katalog produk kecantikan.
"Sekarang selain narik ojol, aku juga reseller skincare Korea."
Erwin terkekeh. "Multitasking juga kamu berarti."
"Hidup sekarang harus begitu, Bang. Harus palugada, biar bisa bertahan hidup."
"Tapi harus tetap, jangan terlalu diforsir, yah, Hans."
Hans tertawa. "Puji Tuhan, belum sampai sakit-sakitan. Dan, ini juga lumayan untungnya, meski kecil. Yang penting halal dan jujur."
Selanjutnya Hans menunjukkan beberapa produk pembersih wajah dan pelembap.
"Komoditas utamanya ini."
Erwin memperhatikan sekilas, berkata, "Berarti sekarang sambil nunggu orderan ojol juga bisa jualan kamu."
"Iya," Hans kemudian menyandarkan tubuhnya. "Bang, aku jadi ingat satu pelajaran yang selalu diajarin Mama dulu."