Sore itu, Erwin sedikit terkejut ketika menerima pesan WhatsApp dari Ferdinand Siallagan.
"Amang di rumah hari ini. Kalau ada waktu, datanglah. Ada beberapa hal yang perlu kau tahu soal Santo. Jangan lewat telepon."
Pesan itu singkat, tetapi cukup membuat Erwin penasaran.
Satu jam kemudian, taksi daring yang ditumpanginya memasuki sebuah kawasan perumahan elite di Tangerang Selatan. Rumah-rumah di sana berdiri megah dengan halaman luas dan pepohonan yang tertata rapi.
"Rumah Pak Ferdinand ya, Bang?" tanya sopir.
"Iya."
Mobil berhenti di depan rumah bergaya modern dengan dominasi batu alam dan kaca lebar. Halamannya dipenuhi tanaman hias. Beberapa bonsai berusia puluhan tahun berjajar di sisi taman. Di garasi terparkir dua mobil berwarna hitam.
Ferdinand sendiri yang membukakan pintu. Ia langsung menyapa, "Masuklah, Win."
Erwin mengangguk hormat. "Permisi, Amang."
Ruang tamu rumah itu luas, tetapi tidak berlebihan. Rak-rak buku memenuhi salah satu sisi dinding. Isinya kebanyakan buku hukum, filsafat, sejarah, hingga biografi tokoh dunia.
"Amang banyak baca juga rupanya."
Ferdinand tersenyum dan menjawab, "Kalau pengacara berhenti belajar, dia berhenti menjadi pengacara."
Mereka tertawa kecil.
Tak lama kemudian seorang asisten rumah tangga datang membawa kopi hitam dan teh chamomile.
"Silakan."
Setelah suasana agak santai, Ferdinand membuka percakapan.
"Win."
"Iya, Amang?"
"Kau masih mengikuti perkembangan kasus Santo?"
"Masih."
"Bagus," Ferdinand mengambil sebuah map tipis. "Beberapa dokumen baru sudah masuk."
Erwin memperhatikan dengan saksama, baru berkata, "Apakah memberatkan?"
Ferdinand menghela napas dan menjawab, "Ada yang memberatkan. Ada juga yang justru membantu posisi Santo agar bebas."
"Maksudnya?"