Ruang kunjungan Rutan Salemba siang itu terasa lebih sunyi daripada biasanya. Di balik sekat kaca bening, Santo duduk dengan pakaian tahanan berwarna sederhana. Wajahnya tampak jauh lebih kurus dibandingkan beberapa bulan lalu. Lingkar hitam di bawah matanya memperlihatkan bahwa tidurnya tidak lagi nyenyak.
Di seberangnya, Mariana duduk dengan kedua tangan saling menggenggam. Matanya sembap sejak berangkat dari rumah.
Tak ada satu pun dari mereka yang langsung berbicara.
Hanya suara pendingin ruangan dan percakapan lirih dari meja-meja kunjungan lain yang sesekali terdengar.
Alangkah kagetnya Santo saat dirinya mendapatkan kejadian seperti sekarang ini. Di saat ia seharusnya menerima kekuatan dari seorang perempuan yang ia cintai, nyatanya, hari ini, dalam satu kunjungan ke Rutan Salemba, Mariana datang hanya untuk menyampaikan kata "putus".
"Mar," ujar Santo menggigit bibir bawahnya, "kenapa harus begini? Kenapa mendadak minta putus? Aku lagi kayak gini juga. Tega kamu, Mar."
Mariana tak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala dan menitikkan air mata.
"Aku berat, Mar," kata Santo sesenggukan. "Berat rasanya, kamu datang jenguk cuma sebagai sahabat. Mending nggak usah jengukin aku aja. Aku kuat kok, Mar."
Ucapan terakhir itu justru membuat air mata Mariana semakin deras. Ia mengenal Santo bukan sebagai orang yang mudah menangis. Selama bertahun-tahun, laki-laki itu selalu tampak percaya diri. Bahkan ketika bisnis sawitnya mengalami pasang surut, Santo selalu bisa tertawa.
Kini, untuk kali pertama Mariana melihat Santo benar-benar rapuh.
"Aku minta maaf ..." bisik Mariana.
Santo menggeleng pelan. "Jangan minta maaf sama aku."
"Tapi aku ..."
"Aku cuma pengen tahu alasannya, Mar, kenapa kamu mutusin aku waktu aku lagi terpuruk gini."
Mariana menarik napas panjang dan berkata, "Aku cuma capek, To."
Santo terdiam.
"Bukan cuma capek nemenin kamu waktu ditahan."
"Terus apa lagi?"
"Aku capek ngadepin sifat kamu."
Ucapan Mariana itu membuat Santo mengangkat wajahnya perlahan.
Mariana melanjutkan, "Aku berkali-kali bilang supaya kamu lebih hati-hati."
Santo masih diam.
"Aku pernah bilang jangan terlalu percaya sama semua orang."
Masih tak ada jawaban.
"Aku pernah bilang kalau keputusan bisnis jangan semuanya diambil sendiri."
Santo memejamkan mata dan akhirnya berkata, "Aku ingat."
"Tapi kamu selalu bilang semuanya aman."
"Aku memang yakin waktu itu, bakal baik-baik aja."
"Justru itu masalahnya, To," Mariana mengusap air matanya. "Kamu terlalu yakin."
Santo menatap meja. Ia mulai mengingat satu demi satu peringatan Mariana yang dulu sering ia abaikan. Tentang audit, investor, kontrak, orang-orang baru yang tiba-tiba datang menawarkan keuntungan besarx hingga tentang pembukaan lahan yang menurut Mariana terlalu tergesa-gesa. Semuanya kini seperti potongan-potongan jigsaw yang baru tersusun setelah semuanya terlambat.