Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #84

Menemani Amangboru Cek Katarak

Rumah sakit mata itu sudah mulai ramai meski jam baru menunjukkan pukul delapan lewat sedikit. Pasien dari berbagai usia memenuhi ruang tunggu. Ada yang ditemani anaknya, ada pula yang datang bersama cucu. Sementara Erwin baru saja selesai mengurus nomor antrean ketika ponselnya bergetar. Dari Imelda.

"Bang Erwin, kami udah sampai parkiran. Papa pelan banget jalannya. Tapi, tunggu bentar ya."

Tak lama kemudian, Imelda muncul sambil menggandeng ayahnya yang berjalan perlahan menggunakan tongkat. Di belakang mereka ada Stevenson, adik bungsu Imelda, yang hari itu sengaja mengambil cuti setengah hari dari pekerjaannya sebagai pengemudi ojek daring.

"Bang Erwin!" sapa Imelda sambil melambaikan tangan.

"Eh, akhirnya sampai juga."

"Gila ya, rame banget di sini," Erwin mengangguk.

"Memang pasien mata biasanya banyak."

Ayah Imelda tersenyum dan berkata, "Kalau bukan karena si Melda yang maksa-maksa, mungkin Amangboru kami ini belum tentu mau periksa lagi."

Imelda langsung memelotot dan berkata tegas, "Papa jangan bandel!"

Stevenson ikut tertawa. "Kalau nggak dipaksa, Papa masih bilang matanya baik-baik aja."

Padahal beberapa bulan sebelumnya, ayah mereka memang sudah menjalani tindakan untuk katarak dan kini datang untuk pemeriksaan lanjutan.

Mereka duduk menunggu nomor antrean dipanggil. Di sela-sela suasana ruang tunggu yang cukup tenang, terdengar suara anak kecil tertawa. Seorang balita perempuan berlari kecil sambil membawa boneka kelinci.

"Mama ... lihat ..."

Di belakangnya, seorang perempuan muda terburu-buru mengejar.

"Sharon ... pelan-pelan."

Perempuan itu akhirnya berhasil menggendong anaknya. Saat wajah mereka menghadap ke arah Erwin dan Imelda, mendadak Imelda membelalak.

"Loh ..."

Perempuan itu juga tampak terkejut. "Melda?"

"Natasha?"

Keduanya langsung tertawa.

"Ya ampun!"

"Udah lama banget!"

Mereka saling berpelukan singkat.

Erwin hanya tersenyum melihat dua orang yang rupanya sudah lama tidak bertemu.

"Bang Erwin," kata Imelda, "kenalin. Ini Natasha. Temen masa kecilku."

Natasha tersenyum ramah, menyapa, "Halo, Bang."

"Halo juga."

"Lama nggak ketemu sama Melda."

Imelda tertawa. "Terakhir kayaknya waktu SMA, deh."

"Iya."

Natasha mengangguk. "Abis itu aku pindah."

Erwin lalu memandang balita yang sedang digendong Natasha.

"Ini anaknya?"

Lihat selengkapnya