Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #85

Bahasa Pesan Aneh Mariana

Erwin masih duduk di ruang tunggu rumah sakit ketika ponselnya bergetar pelan. Imelda sedang mengurus administrasi pemeriksaan lanjutan ayahnya, sedangkan Stevenson pergi membeli air mineral di minimarket lantai dasar.

Erwin membuka layar ponselnya. Satu pesan WhatsApp masuk. Dari Mariana.

"Akhirnya aku putus juga dari pacar yang toxic, Mas Erwin. Eh, mau ketemuan nggak? Aku yang bayarin. Sekalian nonton bareng di bioskop."

Erwin membaca pesan itu sekali. Lalu dua kali. Kemudian untuk ketiga kalinya. Bukan bahasa SMS yang bercerita tentang putusnya yang membuatnya terpaku. Ia tertohok pada bagian terakhir.

"Aku yang bayarin. Sekalian nonton bareng di bioskop."

Erwin menelan ludah. Entah mengapa dadanya berdebar..Baru sekarang ia menyadari sesuatu yang selama ini hanya lewat begitu saja di kepalanya.

Beberapa kali Mariana tampak diam-diam mengarahkan kamera ponselnya ke dirinya. Awalnya Erwin mengira perempuan itu hanya memotret suasana kafe atau makanan. Namun setelah dipikir-pikir lagi, hampir setiap foto yang pernah diperlihatkan Mariana selalu kebetulan memuat dirinya di dalam bingkai. Ada yang dirinya sedang membaca menu. Ada yang saat ia sedang tersenyum. Ada pula yang ia sedang serius mendengarkan Pangeran Rerebulan berbicara.

Bahkan suatu kali Mariana pernah berkata di depan Pak Pangeran, "Mas Erwin tuh orangnya sabar."

Saat itu Erwin hanya tertawa kecil.

Sekarang ucapan-ucapan itu seperti kembali diputar di dalam kepalanya.

"Apa dia naksir aku?" batin Erwin.

Ia terburu-buru menggeleng sendiri. "Jangan ge-er."

Erwin memang mengenal Mariana cukup dekat, tetapi kedekatan itu lahir karena mereka sama-sama berusaha membantu Santo menghadapi persoalan hukumnya.

Belum lagi, baru beberapa hari lalu Mariana resmi mengakhiri hubungannya dengan Santo.

"Terlalu cepat kalau aku menyimpulkan macam-macam," Erwin lali mengunci layar ponselnya.

Lima detik kemudian dibukanya lagi. Pesan itu masih sama. Belum berubah.

"Bang?" Suara Imelda membuyarkan lamunannya. "Kok melamun?"

Erwin terburu-buru memasukkan ponselnya ke saku, lalu menjawab, "Nggak ada apa-apa."

"Yakin?"

"Iya."

Imelda menyipitkan mata dan berkata, "Kayaknya habis baca chat penting."

Erwin tertawa kecil. "Perasaanmu aja."

Lihat selengkapnya