Erwin membaca ulang pesan WhatsApp itu.
"Teman tapi mesra juga nggak apa-apa, Mas."
Untuk beberapa saat, ia hanya menatap layar ponselnya tanpa berkedip.Kemudian ia mengernyitkan dahi.
"Teman tapi mesra?" gumam Erwin pelan.
Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu menyandarkan punggung ke sofa.
"HTS-an gitu?" Erwin menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Ini serius apa bercanda, sih?"
Ia kembali membuka ruang obrolan dengan Mariana. Dibacanya lagi percakapan mereka sejak beberapa minggu terakhir. Tidak ada yang benar-benar romantis. Sebagian besar justru berisi pembahasan sidang Santo, jadwal bertemu pengacara, kabar dari Rutan Salemba, sampai sesekali saling mengirim ayat Alkitab atau kata-kata penyemangat.
"Tapi," Erwin memperhatikan foto profil Mariana yang sedang tersenyum memakai blus putih. "Akhir-akhir ini kok jadi beda ya?"
Ia mencoba mengingat lagi. Saat di Starbucks, Mariana pernah diam-diam membayar minuman Erwin tanpa memberi tahu lebih dulu. Saat menemani ke kantor Pangeran Rerebulan, Mariana juga sempat berkata, "Mas Erwin duluan aja yang masuk. Aku nyusul."
Padahal, sebelumnya Mariana selalu berjalan berdampingan dengannya.
Lalu ada kebiasaan lain yang baru disadari Erwin. Kalau sedang duduk di satu meja, Mariana sering memilih kursi di sampingnya dibandingkan di depan.
"Waduh, jangan-jangan memang," Belum selesai pikirannya, Erwin langsung menepuk dahinya sendiri. "Stop, jangan bikin asumsi sendiri."
Ia teringat kembali salah satu dosen Psikologi Hukum yang pernah mengajar saat kuliah.
"Jangan menarik kesimpulan hanya berdasarkan beberapa perilaku. Selalu pertimbangkan kemungkinan-kemungkinan lain."
"Iya juga," Erwin membenarkan. "Bisa aja dia memang nyaman karena aku dianggap teman."
Erwin mengangguk sendiri. Namun pesan itu tetap mengganggu pikirannya.
"Teman tapi mesra."
Kata-kata itu terlalu spesifik. Sangat mengganggu Erwin. Sehingga itu membuat Erwin overthinking.
Sekitar lima belas menit kemudian, ponselnya kembali berbunyi. Mariana mengirim satu stiker bergambar kucing tertawa. Disusul pesan berikutnya.
"Mas, kok nggak bales? Jangan bilang kaget gara-gara chat aku tadi."
Erwin tersenyum kecil. Ia mulai mengetik.
"Aku lagi mikir aja."
Tak sampai satu menit, balasan Mariana masuk: "Mikir apa?"
Erwin menghapus kalimat yang sudah sempat ia ketik.
"Mikir apa kamu itu suka sama aku?"
Tidak. Itu terlalu frontal. Langsung dihapus oleh Erwin. Akhirnya ia menulis, "Mikir maksud kamu apa."
Mariana membalas dengan emoji tertawa, "Ya maksudnya ya teman yang akrab."