Erwin meletakkan ponselnya di atas meja belajar. Layar itu masih menampilkan ruang obrolan dengan Mariana. Beberapa pesan terakhir seolah enggan pergi dari pikirannya.
"Kalau nanti ternyata lebih dari teman, ya lihat nanti aja. Mas Erwin juga nggak jelek-jelek banget, kok."
Lalu disusul pesan lainnya.
"Makanya aku nyaman ngobrol sama Mas Erwin. Kamu nggak pernah memanfaatkan keadaan. Aku berharap bisa terus sama-sama Mas Erwin."
Erwin mengembuskan napas panjang.NTanpa membalas lagi, ia menekan tombol daya, mematikan layar, lalu menyambungkan kabel pengisi daya ke ponselnya. Bunyi kecil terdengar ketika baterai mulai terisi. Sambil berdiri di samping meja, ia bergumam pelan, seolah hanya berbicara kepada dirinya sendiri.
"Jujur banget," Ia tersenyum tipis, "Mariana tuh wajahnya lumayan."
Ia menggeleng sendiri, sedikit malu karena menyadari isi pikirannya.
"Senyumnya manis bener," Ia lalu berjalan menuju jendela apartemennya. Dari lantai tempat tinggalnya, lampu-lampu jalan mulai menyala, membentuk garis-garis kuning di tengah malam.
"Dia pinter juga."
Ingatan Erwin melayang ke pertemuan pertama mereka yang cukup panjang. Saat itu Mariana mampu mengikuti pembicaraan tentang hukum perusahaan, bisnis sawit, bahkan sesekali bertanya dengan kritis kepada Ferdinand Siallagan dan Pangeran Rerebulan.
"Bukan tipe yang asal ngomong," gumam Erwin. "Lumayan cepat nangkep penjelasan."
Ia tertawa kecil mengingat satu kejadian lain.
"Humoris. Suka konyol sendiri."
Pernah suatu kali, ketika mereka menunggu antrean kopi di Starbucks, Mariana tiba-tiba menirukan suara mesin kasir yang berbunyi "ting!" setiap kali pembayaran berhasil. Semua orang di antrean sempat menoleh. Mariana malah tertawa sendiri sampai matanya berair.
Erwin yang awalnya berusaha menahan tawa akhirnya ikut tertawa.
"Aneh juga tuh orang," Beberapa detik kemudian, senyumnya memudar. "Tapi, kadang emosinya naik turun."
Ia masih ingat ketika Mariana baru mengetahui Santo diduga terlibat kasus lain. Perempuan itu sempat menangis, lalu lima belas menit kemudian bisa bercanda lagi. Besoknya, ia tampak marah kepada semua orang. Lusa, ia meminta maaf kepada Erwin karena merasa terlalu emosional.
"Suka nggak jelas kalau lagi labil," Erwin menghela napas. "Egoisnya juga nggak nahan."
Ia teringat saat Mariana bersikeras ingin menemui Santo meskipun pengacara sudah menyarankan agar menunggu jadwal yang tepat. Atau ketika Mariana memaksa membayar semua pesanan kopi mereka walau Erwin sudah berkali-kali menolak.
"Tapi," Ia tersenyum lagi. "Dia cewek yang benar-benar baik."
Ucapan Erwin terakhir itu keluar begitu saja. Bukan karena kagum semata, melainkan karena selama mengenal Mariana, Erwin melihat perempuan itu tetap datang menjenguk Santo ketika perkara hukum mulai menyeret nama pacarnya ke mana-mana. Bahkan setelah akhirnya memutuskan hubungan, Mariana tetap memastikan Santo memiliki pendamping hukum yang layak dan tidak ditinggalkan begitu saja.
"Itu nggak gampang buat mutusinnya," pikir Erwin.
Erwin mengambil Alkitab yang masih terletak di meja. Namun baru membuka beberapa halaman, pikirannya kembali melayang. Ia sekonyong-konyong tertawa kecil.