Erwin sudah duduk hampir lima belas menit di bangku depan bioskop Summarecon Mall Serpong. Di tangannya ada segelas iced americano yang tinggal separuh. Mariana mengabarkan bahwa ia terlambat sekitar dua puluh menit karena terjebak kemacetan.
Erwin hanya membalas singkat: "Santai aja. Aku tunggu."
Ia kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang. Ada keluarga yang membawa anak-anak, pasangan muda yang sibuk memilih makanan ringan, sampai sekelompok mahasiswa yang tertawa keras karena salah satu temannya salah masuk studio.
"Win ... kamu Erwin Bimantara, kan?"
Suara perempuan itu membuat Erwin menoleh. Ia mengernyitkan dahi beberapa detik. Lalu matanya membulat.
"... Reina?"
Perempuan itu tertawa kecil. "Masih inget aja ternyata kamu, Win."
Erwin ikut tertawa. "Aku nggak mungkin lupain teman-teman yang pernah masuk satu-satu ke dalam hidup aku, Rey."
Mereka berjabat tangan.
"Ya ampun ... terakhir ketemu kapan ya?"
"Waktu pengumuman EBTANAS mungkin," Erwin terkekeh.
"Lama juga ya."
Reina masih tampak ceria seperti dulu. Rambutnya kini sebahu. Di jari manis kirinya melingkar cincin emas. Penampilannya sederhana, mengenakan blus krem dan celana panjang hitam.
"Udah nikah?" tanya Erwin.
Reina mengangkat tangan kirinya, membalasnya dengan pertanyaan lagi, "Kelihatan kan. Lagian aku malah udah punya anak."
"Umur berapa?"
"Tiga tahun."
"Wah," Erwin tersenyum tulus. "Selamat ya."
"Makasih."
Mereka lalu duduk di bangku yang sama.
"Suamimu mana?"
Reina menunjuk ke arah minimarket yang berada di lantai yang sama, berkata, "Itu."
Erwin menoleh.
Seorang laki-laki berkaus hitam sedang membayar beberapa botol minuman di kasir.
"Oh."
"Namanya Dimas."
"Dia kerja, kan?"
"Sebagai kontraktor interior."
"Keren, dong."
Reina tersenyum kecil, membalasnya, "Nggak juga. Tapi orangnya baik."
Tak lama kemudian Dimas datang membawa kantong plastik. Reina memperkenalkan mereka.
"Mas, ini Erwin. Teman SD-ku."
Mereka berjabat tangan.