Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #89

Dituduh Melacur

Mobil keluarga Dimas melaju perlahan meninggalkan Summarecon Mall Serpong. Hujan rintik-rintik mulai turun, membuat kaca depan dipenuhi titik-titik air. Wiper bergerak teratur, menghapus pandangan yang mulai kabur.

Di kursi belakang, Nara yang baru berusia tiga tahun tertidur pulas dalam gendongan Reina. Anak kecil itu sesekali memeluk boneka kelinci berwarna merah muda yang selalu dibawanya ke mana-mana.

Suasana di dalam mobil nyaris sunyi. Namun kesunyian itu pecah ketika ponsel Reina yang berada di dasbor berbunyi.

Ting!

Dimas melirik sekilas. Layar menyala. Muncul notifikasi WhatsApp. Dari Yoshi, dan berisi: "Aku kangen, Rey. Kapan kita ketemuan lagi?"

Jantung Dimas seakan berhenti sesaat. Ia tidak langsung berkata apa-apa. Mobil pun tetap melaju.

Beberapa detik kemudian muncul pesan kedua yang berbunyi, "Kemarin seru ya. Lain kali jangan lama-lama. Hampir aja ketahuan, kan."

Dimas menggenggam kemudi semakin erat.

Reina yang baru menyadari layar ponselnya menyala spontan meraih ponsel itu. Terlambat, sayangnya.

Dimas sudah membaca nama pengirimnya.

"Siapa Yoshi itu?"

Nada suaranya datar. Reina malah terlihat gugup.

"Itu ... dia cuma teman kerja."

"Teman kerja?"

"Iya."

"Teman kantor kamu, apa?"

"Nggak juga, sih. Bisa dibilang, dia juga geman lama."

Dimas menoleh sekilas, bertanya, "Kenapa dia bilang kangen?"

Reina membisu.

"Kenapa dia bilang mau ketemu sama kamu lagi?"

Tak ada jawaban. Mobil akhirnya menepi di pinggir jalan. Dimas mematikan mesin.

Hening.

"Aku tanya sekali lagi. Siapa dia?"

Reina menunduk dan menjawab, "Teman."

"Teman apa?"

"..."

"Jawab!" Suara Dimas meninggi.

Nara yang tertidur mulai bergerak kecil. Reina terburu-buru untuk mengusap punggung anaknya agar tetap tidur.

"Dimas ... aku bisa jelasin."

"Silakan."

Reina menarik napas panjang, menjawab takut-takut, "Awalnya cuma teman ngobrol."

"Terus apa?"

"Lama-lama, dia suka perhatian gitu sama aku."

Dimas tertawa hambar. "Perhatian sama kamu?"

"Iya."

"Terus?"

"Aku nyaman aja sama dia"

Kata-kata Reina itu membuat Dimas memejamkan mata beberapa detik.

"Nyaman, katamu?"

"Iya, nyaman banget, malah."

Dimas menggeleng pelan.

"Luar biasa kamu, Rey," Dimas mengembuskan napas panjang. "Jadi sekarang gantian apa, posisi kita? Kamu mau balas dendam gitu sama aku, Rey?"

Lihat selengkapnya