Malam yang sungguh menyenangkan. Meski Mariana masih sulit ditebak isi hatinya, tetap saja, bagi Erwin, luar biasa. Sejujurnya juga, Erwin memang mengagumi Mariana saat perempuan itu masih berstatus pacarnya Santo, salah satu sahabatnya.
"Hahaha ...."
Erwin terkaget. Ia langsung tersentak di tengah lamunan di depan sebuah mobil Ferrari California T. Ia heran saja, pemiliknya ternyata tidak mengunci mobilnya. Padahal mobil itu diparkir di basement Summarecon Mall Serpong.
Belum apa-apa Mariana sudah berani mencolek leher belakang Erwin. Sembari cengar-cengir, ia berkata, "Nggak usah bingung gitu, Mas Erwin. Sebagian orang kaya, kadang suka gitu. Suka yakin mobil mewahnya nggak ada yang malingin gitu. Makanya suka nggak dikunci."
Erwin lalu membalasnya, meski sambil nyengir, ia masih bingung, "Kenapa gitu sih, Mar? Kan, mobil mewah gitu, kalau nggak dikunci, kan bisa jadi inceran maling. Apalagi di dalam mal, kejadian pengrusakan kendaraan bermotor, masih tinggi."
Mariana mengangkat bahu. "Yah, kalau malingnya tahu juga, mobil mewahnya nggak dikunci. Kebanyakan yang punya juga, mereka udah berpikiran, orang-orang deketin mobil mereka cuma buat foto-foto. Aku juga tahu dari teman-teman aku, Mas."
Erwin mengangguk-angguk pelan. Tatapannya masih tertuju pada Ferrari berwarna merah mengilap itu. Lampu-lampu basement memantulkan kilau bodinya. Mobil itu tampak seperti baru keluar dari ruang pamer.
"Kalau aku sih, Mar," gumam Erwin, "jangankan Ferrari. Motor butut aja pasti aku kunci setang."
Mariana tertawa kecil. "Makanya aku kagum sama kamu, Mas. Mas Erwin emang bukan orang sembarangan."
"Loh, kok bukan orang sembarangan? Kenapa gitu?"
"Iya. Karena Mas tahu kalau rasa aman itu bukan cuma soal harga barang."
Erwin mengernyitkan dahi, bertanya, "Maksudnya? Bukannya itu pemikiran orang yang senormalnya?"
Mariana menyandarkan tubuhnya ke pagar pembatas basement.
"Orang yang terlalu percaya diri kadang lupa kalau kesempatan bisa mengubah orang," ujar Mariana tersenyum tipis.
"Bahasamu berat."
"Soalnya aku belajar banyak beberapa bulan terakhir."
Ucapan Mariana itu membuat senyum Erwin perlahan memudar. Ia tahu persis apa yang dimaksud Mariana. Mulai dari kasus Santo, yang menyeret banyak orang. Kasus yang membuat hidup Mariana jungkir balik juga.
Beberapa saat mereka hanya berdiri memandangi mobil-mobil yang keluar masuk basement. Suasananya cukup tenang. Hanya sesekali terdengar bunyi alarm kendaraan.
"Aku kadang mikir, Mas," ujar Mariana pelan. "Dulu aku percaya sama Santo seratus persen."
Erwin tidak menyela.
"Ternyata manusia bisa berubah."
"Bisa juga," jawab Erwin hati-hati, "manusia tetap sama, cuma kita baru melihat sisi yang sebelumnya nggak kelihatan."