Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #91

Mariana yang Ternyata Seorang Selebgram

Dari bioskop, Erwin diajak Mariana ke sebuah tempat. Agak mirip pub, tapi Mariana lebih suka menyebut tempat ini sebagai kafe. Situasi di kafe lumayan ramai. Yang datang berkunjung itu rata-rata sebaya dengan Mariana, yang Gen-Z. Sementara Erwin itu Milenial, kelahiran 1988. Berbeda dari Mariana yang kelahiran 1999.

Agak berisik juga, meski lagu yang diputar cukup disukai Erwin. Mariana sampai terkekeh.

"Nyanyiin lagu yang anak-anak 90-an familier, Mas," Mariana menyesap wine.

"Eh, busyet, kamu minum juga," Erwin terperanjat, meski ikut minum juga, saat Mariana menyodorinya.

"Sebetulnya aku nggak hobi minum, Mas. Karena kerjaan aku aja sebagai influencer, sebagai selebgram, mau nggak mau, biar lancar, biar ada transferan, mau-maunya aku diajakin ke tempat gini. Ajeb-ajeb."

"Loh, kamu selebgram, Mar?" tanya Erwin tak percaya. Ia minum lagi wine.

Mariana terkekeh, sejenak minum lagi seloki, dan menunjukkan sesuatu di ponsel. Segera ia berkata, "Ketik aja nama Mariana Tania Harland, ada banyak kok di Google."

Erwin langsung mengambil ponsel dari dalam tas selempang, mengecek nama itu dengan ponsel. Benar saja, ada banyak du halaman pertama, pencarian dengan nama "Mariana Tania Harland". Kebanyakan pencarian itu berisi biodata Mariana, yang mulai dari agamanya apa, pernah sekolah di mana, hingga makanan kesukaan Mariana. Ada juga artikel yang menyebutkan outfit yang suka disukai Mariana saat ke pantai atau gunung.

Mariana menenggak seloki lagi, dan berkata, "Agency aku yang ngurus. Aku tinggal jalani dan terima duit. Yah, zaman sekarang, cari duit susah, sih. Daripada susah-susah ikut job fair, kirim lamaran, ikut wawancara, mending jadi selebgram."

Selanjutnya, Mariana bercerita awal mula dia terjun ke dunia hiburan sebagai selebgram. Berawal dari menemani temannya, Saras, yang manggung dari kafe ke kafe. Lalu Saras mengajak Mariana ke studio musik, dan memperkenalkan Mariana dunia hiburan yang sesungguhnya. Itu seperti bagaimana menjadi seorang selebgram atau influencer yang sesungguhnya.

"Dia selalu bilang, 'Wajah lo kan cantik, Mar, lumayan good looking, daripada capek-capek sebar lamaran, apa nggak sebaiknya jadi selebgram?'," Mariana minum seloki lagi. "Ya udah deh, selain ke studio musik, Saras ngenalin aku ke satu agency artis gitu. Manajemen artis itu yang besarin namaku, sampai akhirnya berkenalan dengan Santo."

Erwin masih memandangi layar ponselnya. Hasil pencarian tentang Mariana memang bertebaran. Ada artikel mengenai gaya berpakaiannya, beberapa wawancara singkat, sampai foto-foto ketika menghadiri peluncuran produk kecantikan, pembukaan restoran, dan konser musik.

Ia mengembalikan ponsel itu ke dalam tas selempangnya.

"Pantes aja," gumam Erwin.

"Pantes apa?" Mariana tersenyum sambil memainkan gelas kecil di tangannya.

"Pantes banyak orang ngenalin kamu. Aku kira waktu pertama kali ketemu itu kamu cuma kerja kantoran biasa."

Mariana terkekeh. "Dulu memang kerja kantoran, Mas. Sebentar doang. Cuma delapan bulan."

"Terus resign?"

"Nggak resign juga sih ngomongnya. Soalnya waktu itu dalam rangka magang buat kuliah. Aku kan Sarjana Ilmu Komunikasi, Mas."

"Oh, aku baru tahu, kamu dulunya anak Komunikasi."

Mariana mengangguk pelan. "Waktu itu penghasilan endorse mulai lebih besar daripada kerjaan magang aku di sebuah perusahaan advertising. Awalnya aku juga takut buat terima kerjaan jadi selebgram. Orang tua juga sempat marah."

Erwin mengangkat alis, bertanya, "Terus kelanjutannya gimana?"

"Papa bilang, 'Kerjaan begitu nggak jelas masa depannya. Pergaulannya buruk.' Mama juga khawatir. Mereka takut aku cuma terkenal bentaran doang."

"Lumayan masuk akal. Aku bisa paham penolakan orangtuamu."

Mariana memutar-mutar sedotan, baru berkata, "Makanya aku sempat bimbang. Tapi agency bilang, selama aku disiplin bikin content dan jaga nama baik, peluangnya masih panjang. Pokoknya disuruh aja ikutin apa yang dipengenin agency."

Erwin memperhatikan wajah Mariana yang mulai sedikit memerah, entah karena minuman yang diteguknya atau karena suasana kafe yang hangat.

"Terus ternyata berhasil?"

"Puji Tuhan," Mariana tersenyum kecil. "Nggak langsung kaya juga, sih. Enam bulan pertama malah capek."

"Ngonten tiap hari?"

"Hampir, tapi aku seneng banget," Mariana tertawa mengingat masa itu. "Bangun pagi syuting. Siangnya meeting. Sorenya pemotretan. Malamnya edit video. Besoknya ulang lagi."

"Capek juga jadi kamu, Mar."

"Banget, Mas," Mariana menghela napas panjang. "Orang cuma lihat foto-fotonya bagus. Padahal sebelum satu foto jadi, bisa ratusan kali jepret."

Erwin mengangguk pelan. "Terus komentar netizen gimana?"

"Nah itu," Mariana terkekeh pahit. "Kalau lagi dipuji enak. Tapi kalau dihujat ...."

Ia berhenti sejenak. Minum lagi.

"... kadang seminggu nggak bisa tidur."

Erwin menatapnya serius, bertanya, "Separah itu?"

Lihat selengkapnya