Pukul sembilan tepat, suasana ruang sidang berubah hening.
"Majelis hakim memasuki ruang sidang."
Semua orang yang hadir berdiri. Tiga hakim berjalan memasuki ruangan dengan wajah tenang. Ketua majelis duduk di tengah, diapit dua hakim anggota. Setelah semuanya duduk, ketua majelis mengetukkan palu satu kali.
"Sidang perkara pidana nomor 217/Pid.B/20XX/PN... atas nama terdakwa Santo Hieronimus Tanubrata dan beberapa terdakwa lainnya kami nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum."
"Baik," lanjut ketua majelis. "Saudara Penuntut Umum, silakan."
Jaksa penuntut umum berdiri sambil membawa setumpuk berkas.
Erwin memperhatikan wajah Santo dari bangku pengunjung. Sahabatnya itu tampak jauh berbeda dibanding beberapa bulan lalu. Tubuhnya sedikit lebih kurus. Wajahnya pucat. Namun, Santo berusaha tetap duduk tegak.
Di sebelah Santo, Pangeran Rerebulan membuka map berwarna hitam. Sesekali ia membisikkan sesuatu kepada kliennya.
"Tenang. Dengarkan dulu seluruh dakwaannya," bisik Pangeran.
Santo mengangguk pelan.
Di bangku pengunjung, Mariana menggenggam kedua tangannya erat-erat.
Erwin yang duduk di sampingnya berbisik, "Kalau nggak kuat, bilang saja."
"Aku kuat."
"Tapi tanganmu gemetar."
Mariana menarik napas panjang.
"Ini pertama kalinya aku lihat orang yang pernah aku sayangi duduk di kursi terdakwa."
Erwin tidak mampu menjawab.