"Sidang perkara pidana nomor 217/Pid.B/20XX/PN... atas nama terdakwa Santo Hieronimus Tanubrata dan beberapa terdakwa lainnya kami nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum."
Kata-kata yang ia dengar di ruang sidang itu masih terngiang di kepala Mariana. Masih terngiang saat ia dan Erwin sedang berada di kafe yang sama, yang saat itu mereka berdua datangi.
Erwin datang dari arah toilet dan berkata sambil tersenyum, "Kalau masih cinta, balikan lagi aja, Mar. Temui dia di rutan, bilang kamu bakal perjuangkan dia mati-matian."
Sebelumnya Mariana minum seloki anggur putih dan mendadak berkata, "Sayangnya ada seseorang yang lain, yang aku sayangi. Aku juga bingung, ini naksir atau sayang beneran."
Jantung Erwin berdebar kencang. Lama ia memandangi wajah perempuan berdarah Tionghoa-Manado tersebut. Ia pun menelan saliva. Teringat setiap hal yang ia curigai sebagai pendekatan dari Mariana selama beberapa hari terakhir. Bahkan saat Mariana dan Santo masih berpacaran, serta Santo belum ditangkap.
Erwin tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik kursi di depan Mariana, lalu duduk perlahan. Musik yang mengalun di dalam kafe terdengar samar. Di luar, lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Orang-orang berlalu-lalang tanpa mengetahui bahwa di sudut ruangan itu, dua orang sedang menghadapi percakapan yang mungkin mengubah arah hidup mereka.
"Ada seseorang di hatimu selain Santo?" tanya Erwin akhirnya.
Mariana mengangguk pelan. "Iya."
"Dia kenal sama aku nggak?"
Perempuan itu tersenyum tipis, menjawab, "Kenal banget"
Jantung Erwin kembali berdegup lebih cepat. Ia mencoba tetap terlihat santai, walaupun pikirannya mulai ke mana-mana.
"Orangnya baik?"
"Iya."
"Pekerja keras?"
"Kayaknya sih, dan ia setia kawan juga."
"Humoris?"
"Kadang-kadang. Tapi kelewat serius orangnya."
Erwin tertawa kecil. "Jawabanmu bikin aku tambah deg-degan."
Mariana ikut tertawa, tetapi hanya sebentar. Setelah itu senyumnya memudar.
"Mas Erwin ..."
"Iya."
"Aku takut."
"Takut soal apa?"
"Aku takut salah mengambil keputusan lagi."
Ucapan Mariana itu membuat Erwin langsung memahami bahwa pembicaraan mereka bukan lagi soal Santo semata.