Erwin masih membeku di tempatnya. Pipi kirinya masih terasa hangat. Sentuhan singkat itu bukan ciuman yang penuh gairah, tetapi cukup untuk membuat jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada biasanya. Ia lalu memandangi Mariana yang berlari kecil menuju lorong menuju area restroom. Sesekali perempuan itu menoleh sambil tertawa geli, seolah baru saja berhasil mengerjai seseorang.
"Ya Tuhan," gumam Erwin pelan. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku harus gimana?"
Pertanyaan itu bukan sekadar keluar dari bibirnya. Pertanyaan itu benar-benar memenuhi isi kepalanya.
Di satu sisi, ia tidak bisa memungkiri bahwa Mariana memang menarik. Cantik, cerdas, spontan, dan beberapa bulan terakhir mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Bahkan sejak mendampingi berbagai urusan hukum Santo, mereka menjadi semakin akrab.
Namun, di sisi lain, ia teringat akan Santo. Nama itu terus muncul. Sebab Santo adalah sahabatnya. Meski kini Santo sedang menghadapi proses hukum dan hubungannya dengan Mariana telah berakhir, Erwin tetap merasa ada garis yang tidak boleh dilewati begitu saja.
Ia mengusap wajahnya pelan.
"Bukan sifatku yang hobi main api," gumam Erwin lagi. "Kasihan si Santo."
Beberapa menit kemudian Mariana kembali. Wajahnya masih menyisakan senyum jahil saat bertanya, "Masih bengong?"
Erwin menggeleng sambil tertawa kecil. "Yang kayak gini jangan dijadiin kebiasaan, Mar."
"Kenapa emangnya?"
"Bisa bikin orang salah fokus."
Mariana duduk kembali, menjawab, "Berarti berhasil, dong."
"Kamu ini ...."
"Apanya?"
"Usil kamu, ah."
Mariana tertawa puas. "Iya, sih."
Pelayan datang mengantarkan segelas air mineral yang tadi dipesan Erwin. Tanpa sadar Erwin langsung menghabiskan setengah gelas. Mariana memperhatikannya sambil menopang dagu.
"Segugup itu di dekat aku?"
"Ya jelas, lah, Mar."
"Loh, kirain semua pengacara itu pemberani."
"Pemberani beda sama siap menghadapi situasi begini."
Mariana kembali tersenyum, berkata, "Lucu."
Erwin menarik napas panjang, lalu ikut berkata juga, "Mar."
"Apa?"
"Aku boleh jujur?"
"Silahkan."
"Aku memang beberapa kali curiga."
"Curiga soal apa?"
"Kalau kamu mulai punya rasa."
Mariana tertawa kecil. "Ketahuan ya?"
"Sedikit."
"Sejak kapan? Dan, kenapa nggak coba kroscek langsung ke aku?"
Erwin mencoba mengingat-ingat, baru berkata, "Entahlah. Mungkin sejak kamu mulai sering menghubungiku tanpa ada urusan Santo. Tapi waktu itu aku ragu."
Mariana mengangguk pelan. "Terus sekarang gimana? Masih ragu?"
"Terus kamu mulai sering memujiku."