Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #96

Mulai Bertukar Nomor

Mariana langsung menundukkan kepala. Kedua pipinya memerah. Ia berusaha menahan senyum, tetapi semakin ditahan, semakin terlihat jelas.

"Yo weis?" ulang Erwin sambil tertawa kecil.

"Iya, yo weis."

"Kamu ini, ya."

"Kenapa?"

"Baru putus beberapa hari, udah centil lagi."

Mariana menjulurkan lidah sebentar, lalu berkata, "Kan sama kamu."

Jawaban perempuan itu membuat Erwin tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa detik. Akhirnya ia hanya menggeleng sambil tersenyum.

"Kamu tahu nggak?"

"Tahu apa?"

"Aku benar-benar nggak nyangka aja, Mar."

"Nggak nyangka aku bakal ngomong begitu?"

"Iya."

Mariana memainkan sedotan di gelasnya, berkata centil, "Sebetulnya aku juga nggak nyangka aja, bisa senekat ini."

"Loh, kenapa gitu?"

"Aku pikir bakal kupendam terus."

Erwin menatap perempuan itu lekat-lekat, bertanya, "Lalu kenapa akhirnya ngomong?"

Mariana menarik napas panjang, menjawabnya, "Karena hidup terlalu pendek buat terus menyesal. Makanya kuputuskan buat nekat aja."

Erwin terdiam. Ucapan Mariana itu sederhana, tetapi terasa begitu dalam.

Mariana melanjutkan pelan "Waktu Santo ditahan, aku baru sadar."

"Sadar apa?"

"Bahwa manusia bisa kehilangan banyak hal dalam waktu yang sangat cepat."

Mariana lalu memandang keluar jendela.

"Hari ini masih ketawa bareng. Besok bisa saja semuanya berubah."

Erwin mengangguk pelan. Ia teringat begitu banyak kejadian beberapa bulan terakhir. Kasus CV Asri Nan Makmur. Tentang Tulang Abner Siallagan. Atau persoalan penyitaan toko bangunan Star Syndrome. Belum lagi tentang sidang Santo, atau putusnya Mariana. Semuanya terasa seperti rangkaian domino yang terus berjatuhan.

"Makanya," lanjut Mariana, "aku nggak mau nanti suatu hari bilang ke diri sendiri, 'Coba dulu aku jujur sama Mas Erwin.'"

Erwin tersenyum tipis, menimpali, "Tapi kamu juga harus sabar."

"Aku tahu."

"Aku bukan tipe orang yang gampang bilang cinta, Mar."

"Aku juga nggak minta jawabannyasekarang kok, Mas."

"Serius?"

"Iya," Mariana tertawa kecil. "Aku malah senang kamu kayak gini."

"Kenapa?"

"Berarti nanti kalau kamu benar-benar bilang sayang atau cinta, aku tahu itu bukan karena sesaat."

Erwin mengangguk pelan. "Makasih banyak, Mar, udah percaya sama aku."

Lihat selengkapnya