Bumi dan Harsa

elenio
Chapter #8

Bagian 8

Sepanjang perjalanan, aku dan Yasa berjalan bersisian dengan Paman Azel. Aku tidak tahu kemana Paman Azel akan kami, aku hanya mengikutinya tanpa bertanya. Kami bahkan sudah keluar dari jalan utama, menembus hujan salju. Kami menuruni lembah di sisi kiri jalan. Lurus ke bawah, terlihat sungai besar mengalir di bawah sana. Sedari tadi Paman Azel asyik bercerita tentang Harsa, dunia tempat aku dan Yasa berada sekarang.


Harsa zaman dulu hidup penuh teknologi, gedung-gedung tinggi berada dimana-mana, benda-benda melayang di langit dengan indah. Kemajuan ilmu pengetahuan saat itu membuat Harsa berada di puncak peradabannya. Semua orang bisa melakukan segala sesuatu dengan mudah. Pergi ke berbagai tempat dengan sangat cepat. Mereka punya kendaraan yang melayang di udara. Di rumah-rumah, ada peralatan yang bisa di gunakan melalui kekuatan pikiran. Mencuci baju, mencuci piring hingga mengambil air minum, hanya dengan memikirkannya, peralatan itu sudah bisa bekerja otomatis.


Hubungan dengan dunia lain juga berjalan sangat baik, termasuk dengan Bumi. Ada beberapa orang dari Bumi yang datang ke Harsa untuk belajar tentang teknologi. Ada juga orang-orang dari dunia lain yang juga datang ke Harsa. Harsa saat itu menjadi pusat pengetahuan dan teknologi dari orang berbagai dunia.


800 tahun yang lalu, akibat keserakahan manusia dan perang antar negara yang terus terjadi, akhirnya alam pun murka. Ada benda dari langit yang masuk ke Harsa. Menghancurkan semua teknologi dalam sekejap mata. Ledakan besar terjadi dimana-mana. Tanah berguncang hebat, bahkan terbelah, meluluhlantakkan semua bangunan tinggi ke dalamnya. Hawa di Harsa saat itu terasa panas, membunuh banyak orang. Buku-buku yang berisi pengetahuan bahkan hangus oleh hawa panas itu. Kendaraan-kendaraan yang melayang di udara tak berfungsi lagi. Bahkan besi-besi pembentuknya ada yang meleleh.


Setelah hilangnya semua teknologi di seantero Harsa, perang antar negara terus terjadi. Hingga ada juru damai dari selatan, menghentikan peperangan untuk beberapa tahun. Semua negara bersepakat untuk berdamai agar alam tidak murka lagi. Mereka mengutuk teknologi yang membuat semua orang ambisius mengejar kekuasaan. Sampai saat ini, tidak pernah diizinkan lagi adanya penelitian untuk pengembangan teknologi seperti zaman dulu. Semuanya diatur dalam perjanjian itu, jika ada yang ketahuan mengembangkan teknologi lagi, mereka langsung diperangi dan dimusnahkan.


Mereka juga bersepakat menutup semua pintu ke dunia lain. Tapi tetap saja ada yang bermain dari kesepakatan itu, hingga pintu antar dunia masih digunakan oleh beberapa orang untuk kepentingan mereka, termasuk untuk migrasi.


Kelompok orang yang paling dirugikan dalam perdamaian itu adalah pengendali elemen kehidupan. Paman Azel bercerita, pengendali elemen kehidupan seperti kami berasal dari hasil penelitian ilmuwan Harsa pada masa itu. Semacam rekayasa genetika, sejumlah orang dijadikan sampel. Masyarakat Harsa percaya keseimbangan alam berasal dari empat elemen utama kehidupan, yaitu air, api, udara dan tanah. Empat elemen itu diteliti, dikembangkan menjadi sel kekuatan dan kemudian direkayasa kepada janin yang sedang dikandung oleh perempuan.


Melalui serangkaian proses panjang dan mengorbankan banyak nyawa perempuan hamil, akhirnya keturunan pertama pengendali elemen kehidupan dilahirkan, dialah pengendali api pertama, kemudian muncul pengendali elemen lainnya. Mereka kemudian berkembang setelah beratus-ratus tahun. Negara mulai merekrut mereka menjadi tentara, sebagai bagian dari kekuatan militer berbasis teknologi. Menjadi bagian dari perang besar yang terjadi 800 tahun lalu.


Setelah benda langit menghancurkan semuanya, teknologi hancur dan kehidupan manusia Harsa kembali ke peradaban manusia purba. Perdamaian pun dilakukan, pengendali elemen kehidupan dianggap sebagai biang dari segala peperangan. Demi kedamaian, mereka dibantai dan dibersihkan. Peperangan kembali pecah karena pengendali elemen kehidupan membela diri. Ah, aku malah merasa yang diceritakan Paman Azel sama dengan dongeng-dongeng yang pernah kubaca.


"Apa pengendali elemen kehidupan kalah saat itu, Paman?" tanya Yasa yang penasaran dengan pembahasan itu.


Paman Azel menggeleng.


"Pengendali elemen kehidupan tidak kalah, Yasa. Tapi mengalah, jika memaksa untuk perang, yang menjadi korban adalah orang yang tak bersalah. Tapi tentara dari berbagai negara terus memburu kami, sebagian besar dari kami memilih migrasi ke dunia lain, termasuk Bumi. Sebagian lagi menyembunyikan identitas mereka sebagai pengendali elemen kehidupan, bertahan dan tetap hidup disini. Saat semua orang tahu bahwa mereka punya kekuatan, mereka akhirnya memilih migrasi." Paman Azel menjeda sejenak penjelasannya.


"Tapi negara-negara itu munafik, Yasa. Mereka diam-diam merekrut pengendali elemen kehidupan untuk angkatan perang mereka, hingga ada pengendali elemen kehidupan yang bersekutu dengan beberapa negara, membuat perang kembali pecah karena sikap ambisius mereka untuk menguasai Harsa yang luas ini secara utuh."


Cerita panjang Paman Azel berakhir, dia menunjuk ke arah sebuah tenda yang berdiri di tepian sungai. "Kita akan bermalam di tenda itu, ada dua muridku seusia kalian yang menjaganya," tutur Paman Azel.


Lihat selengkapnya