Pagi itu, aroma roti panggang dan kopi hitam memenuhi ruang makan keluarga Weiss. Cahaya matahari menembus jendela besar dan jatuh di atas meja kayu panjang tempat mereka duduk—pemandangan yang bagi orang luar, mungkin terlihat harmonis.
Julian duduk tegak di ujung meja, kemeja putihnya licin tanpa kerut, dasinya sudah terpasang meski waktu baru menunjukkan pukul enam. Sesekali ia melirik jam tangan klasik di pergelangan, seolah tiap detik punya harga. Di tangannya, lembaran koran pagi terbuka, bunyi gesekan halus kertas terdengar setiap kali ia membalik halaman—teratur dan nyaris tanpa suara, sama presisinya dengan segala hal yang ia kendalikan.
Di seberangnya, Sekar menuang teh hangat ke cangkir porselin. Syal batik tipis di lehernya bergoyang pelan mengikuti gerak tangannya—kontras lembut di tengah suasana yang kaku.
“Hati-hati, masih panas,” ucapnya lembut pada Himmel yang duduk di sampingnya.
“Makasi, Mam.” Himmel tersenyum, meski semburat pucat masih membayang di pipinya. Ia mengaduk teh perlahan, uapnya naik tipis di udara sebelum ia menoleh pada Julian.
“Pap, aku denger cabang baru Hemart udah buka, ya? Kalau boleh… aku mau bantu bagi-bagi brosurnya.”
Julian yang sedari tadi tenggelam di balik koran akhirnya menurunkannya perlahan. Pandangannya berpindah pada anak sulungnya.
“Kamu fokus saja ke sekolahmu, Nak. Urusan itu biar Papa yang urus. Lagipula, kan kamu juga harus jaga kesehatan.”
Sekar tersenyum tipis. Ia menepuk bahu Himmel pelan—hangat seperti biasa.
“Papamu benar, Himm. Jangan dipaksain, ya. Yang terpenting itu kamu tetap sehat.”
Di ujung meja, Erde hanya diam. Garpunya bergerak pelan, menusuk roti di piring tanpa benar-benar berniat memakannya. Sesekali ia melirik ke arah mereka—tatapannya sayu, tapi cepat kembali tertunduk.
Suara kecil sendok beradu dengan cangkir terdengar nyaring di antara jeda napas. Meja itu terasa terlalu panjang—seolah jarak antara dirinya dan keluarganya diukur oleh keheningan yang tak pernah putus.
Ia ingin bicara, sekadar masuk ke dalam obrolan ringan itu. Tapi lidahnya kelu. Setiap kali ingin mencoba, suara ayahnya, nada lembut ibunya, dan tawa kecil Himmel sudah lebih dulu memenuhi ruang.
Dan Erde … kembali tenggelam di ujung meja—seperti bayangan yang sekadar ikut duduk.
Aroma roti panggang itu perlahan membuat perutnya mual. Ia menatap piring, lalu menunduk lebih dalam, menahan napas saat Julian tertawa kecil pada sesuatu yang dikatakan Himmel. Suara itu, entah kenapa, membuat dadanya sesak—seakan menegaskan betapa jauh dirinya dari mereka.
Beberapa detik berlalu dalam hening. Hanya terdengar suara lembut ketika Julian menyesap kopi sebelum meletakkan cangkir itu kembali di meja. Tatapannya beralih ke arah Erde, tenang tapi menusuk. Jemarinya bertaut di atas meja, menyampaikan keseriusan yang tak perlu diucapkan dengan suara keras.
“Erd… Papa baru dapat laporan kalau kamu sering bolos di jam terakhir. Apa benar?”
Erde terdiam. Garpu di tangannya tak bergerak, dan matanya tetap terpaku pada piring.
“Gak sering, kok,” ucapnya pelan. “Cuma kadang.”
Julian menarik napas pelan dan menyandarkan punggung ke kursi. Tatapannya tetap tertuju pada Erde. “‘Kadang’ itu tetap aja bolos, kan?” ucapnya datar. “Papa lihat belakangan ini nilai kamu makin turun, dan catatan namamu di sekolah juga makin buruk. Ada apa sebenarnya?”
Ia berhenti sejenak. jari telunjuknya mengetuk meja perlahan, seolah menimbang sesuatu yang akhirnya tetap ia ucapkan.
“Kamu pikir, Papa kerja keras setiap hari buat apa? Supaya kamu bisa main basket terus dan bolos seenaknya?”