Bumi Tanpa Langit

fotta
Chapter #9

BAB 4 - Gema yang Bergaung (Bagian II)

Musik keras menggema di aula sekolah.

Derap kaki para anggota tim cheerleader memantul dari dinding, berulang—seperti gema yang tak mau berhenti. Clara berdiri di depan, tubuhnya tegak, suaranya tegas memotong udara.

“Ulang lagi! Satu orang aja meleset, semuanya bisa kacau!”

Lyra menghela napas pelan, tapi tetap mengikuti irama. Lengan dan kakinya bergerak sesuai komando meski ototnya mulai menjerit. Keringat menetes di pelipis, bercampur dengan rambut yang menempel di dahi. Sudah hampir satu jam mereka latihan tanpa jeda.

Di sisi lain aula, Krista menatapnya khawatir sambil berbisik saat pelatih memberi jeda singkat.

“Lo yakin masih mau lanjut, Ra? Muka lo udah pucet banget.” Krista melirik sekilas ke arah Clara yang tengah sibuk mengatur ulang formasi. “Gue yakin deh, dia sengaja bikin formasi susah cuma biar lo capek sendiri.”

Lyra tersenyum miring, mengambil botol minum dari lantai. “Santai, gue masih hidup kok.”

Krista mendengus, lalu duduk di sampingnya sambil mengelap keringat di dahi. “Lo emang gila, mau aja ikut latihan kayak gini. Emangnya lo beneran udah jatuh cinta, ya, sama dia?”

Lyra menatap air di botolnya yang berguncang pelan. “Bukannya kalau lagi jatuh cinta, orang emang jadi ilang akal sehat, ya?”

Krista terkekeh kecil, suaranya terdengar lelah. “Iya sih... tapi gak nekat kayak lo juga kali.”

Lyra tak menjawab. Pandangannya sudah terarah ke balik dinding kaca besar yang memisahkan aula cheer dari lapangan basket.

Di sana, Erde berlatih bersama timnya. Keringat menetes di pelipis, bola memantul ritmis di lantai. Setiap kali Lyra melihatnya, dunia sekitarnya seperti memudar. Antara mereka hanya ada kaca bening—cukup dekat untuk melihat napasnya, tapi tetap terlalu jauh untuk disapa.

Clara menangkap arah pandang Lyra. Senyum sinis muncul di bibirnya.

“Kalau mau latihan, fokusnya ke sini, bukan ke lapangan sebelah,” ujarnya setengah berbisik, tapi cukup keras untuk didengar semua orang. 

Beberapa anggota tim terkekeh pelan, pura-pura tak bermaksud jahat. Tapi Lyra tahu, tawa itu bukan sekadar lelucon, melainkan cara halus untuk mengingatkannya bahwa ada batas yang seharusnya tak ia lewati.

Bagi fanbase Himmel, nama Erde sudah lama dianggap tabu—bayangan yang mencoreng citra “kembar sempurna” itu.

Dan Lyra, yang kini tertangkap memperhatikannya, otomatis jadi bahan omongan baru di antara mereka.

Krista mendekat, berbisik nyaris tanpa suara.

“Clara makin rese, Ra. Kalau gue jadi lo, mungkin gue udah cabut dari kemaren.”

Lyra terkekeh pelan, tapi ada getir di balik tawanya.

“Ya, tapi kalau gue keluar sekarang, siapa yang bakal nyemangatin si Bumi pas tanding nanti?”

Krista menatapnya tak percaya. “Astaga, Lyra. Lo beneran udah cinta mati, ya?”

“Mungkin.” Lyra tersenyum kecil, tapi dalam hatinya terasa berat, seperti menyimpan sesuatu yang bahkan ia sendiri tak mengerti. 

Ia tak tahu kapan perasaannya mulai tumbuh.

Mungkin sejak pagi itu, saat ia melihat Erde bermain basket sendirian di lapangan, dengan tatapan yang seolah menembus dunia—sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh orang yang juga kesepian.

Bagi Lyra, rumah adalah tempat yang terang tapi hampa. Di setiap sudutnya, gema suara orang tuanya selalu terdengar: “Kami kerja keras supaya kamu bahagia, Lyra.”

Lihat selengkapnya