Bumi Tanpa Langit

fotta
Chapter #10

BAB 5 - Bayangan di Balik Cahaya (Bagian I)

Pagi di kamar Himmel selalu datang dengan lembut. Tak ada dering keras yang memaksa mata terbuka, tak ada pula panggilan ibu dari ruang makan—hanya denting kecil jam meja yang berdetak sabar, berpadu dengan angin pagi yang menyelinap lewat sela tirai.

Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit yang sudah sangat akrab di matanya. Di sudut ruangan, deretan botol obat berjajar rapi, seperti barisan pengingat yang tak pernah absen menemaninya setiap hari.

Himmel duduk perlahan, menahan napas agar tidak terburu. Detak jantungnya selalu terasa berbeda saat pagi—kadang cepat, kadang lambat, seperti tuts piano yang dimainkan dengan tempo tak pasti. Ia meraih segelas air dan menelan obat satu per satu. Wajahnya tenang, tapi ada kerut halus di antara alisnya setiap kali cairan itu melewati tenggorokan.

Setelahnya, ia berdiri di depan cermin. Tubuhnya tampak sehat—kulitnya bersih, posturnya tegap, senyumnya bahkan nyaris sempurna, senyum yang mudah disukai banyak orang. Tapi saat kaus tipisnya terangkat sedikit, bekas luka panjang di dadanya terlihat samar, melintang dari bawah bahu hingga sisi kiri dada.

Ia menatap pantulan luka itu lama. Garis pucat yang tak pernah hilang—tanda bahwa jantungnya pernah berhenti di usia yang terlalu muda.

Senyumnya perlahan mememudar.

“Terima kasih karena masih berdetak,” gumamnya, entah untuk dirinya sendiri atau kepada luka itu.

Hari-hari Himmel mengalir dengan ritme yang hampir tak pernah berubah.

Minum obat setiap hari, kontrol dokter seminggu sekali, latihan di klub musik sepulang sekolah—semua teratur, nyaris sempurna. Namun di balik keteraturan itu, ada tekanan yang tak pernah benar-benar pergi.

Setiap kali melihat ibunya tersenyum lembut saat memeriksa jadwal kontrol, atau ayahnya menahan napas ketika membayar tagihan rumah sakit, ada sesuatu di dalam dirinya yang mencengkeram kuat. 

Di tengah malam, Himmel sering terbangun hanya untuk memastikan napasnya masih ada.

Suara detik jam di meja terdengar lebih keras dari biasanya, seolah mengingatkannya kalau waktu terus berjalan.

Kadang, ada suara halus di kepalanya, bisikan yang selalu membayanginya:

“Kau memang masih hidup, tapi seberapa lama lagi?”

Ia benci suara itu. Tetapi lebih dari itu, ada ketakutan lain yang merayap—keyakinan pahit bahwa cepat atau lambat, jantungnya mungkin akan benar-benar berhenti—entah ia siap atau tidak. 

❖❖❖

Lihat selengkapnya